Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Oleh: Guruh Ramdani


Dengan kemunculan teknologi digital, banyak perguruan tinggi non seni membuka jurusan yang berhubungan dengan desain, dan software adalah tools-nya. Beberapa jenis pekerjaan seni ada yang direbut lahannya oleh kaum terdidik software dan teknologi digital ini, dan mereka notabene tidak terdidik seni rupa namun banyak meraup keuntungan yang dihasilkan dari dampak munculanya teknologi digital ini. Terutama pekerjaan-pekerjaan desain grafis. Poster film tidak lagi dilukis, tapi menggunakan digital printing, para penulis atau penerbit banyak yang tidak mau keluar modal membayar jasa ilustrator, cukup dengan kamera HP sudah bisa menghasilkan illustrasi untuk buku-bukunya. Para seniman perupa sempat khawatir dengan fenomena ini.

Tapi belakangan muncul hal menarik di media sosial. Yaitu dengan maraknya komunitas, penggiat, atau pun perorangan beramai-ramai melakukan aktifitas seni rupa yang dihasilkan melalui "hand made" (saya tidak mau menyebut manual); mulai dari ibu kota, mancanegara, bahkan sampai ke pelosok-pelosok daerah setingkat kabupaten (mungkin sampai tingkat kecamatan atau pedesaan) aktif melakukan kegiatan melukis atau membuat sketsa dengan cara on the spot (melukis langsung di alam). Para pelukis yang dulu sempat mati suri ramai ramai memposting karya di medsos, bahkan sampai dosen non seni dan tidak terdidik seni - sampai yang profesinya kuli bangunan pun ikut serta terlibat di dalamnya. Beberapa di antaranya kopi darat, bersilaturahmi satu sama lain, menggagas berbagai kegiatan, pameran, dan seminar seni rupa.

Ah rupanya hati manusia memang bukan robot yang tidak punya perasaan, yang bisa begitu saja puas dengan hasil seni dari kecerdasan buatan berupa jutaan koding yang berwujud pencitraan di layar komputer melalui software Coreldraw (atau software yang berbasis vektor lainnya) yang bisa menghasilkan gradasi yang sangat sempurna, dan menghasilkan warna yang sangat solid; dari software 3D, software berbasis bitmap, atau masih banyak lagi yang lainnya.

Manusia adalah mahluk yang tidak sempurna, yang jalan saja tidak pernah bisa benar-benar lurus, namun akan selalu mencari kebenaran yang hakiki. Ketika otak atau logika sudah tidak mampu lagi menghasilkan jalan keluar sebuah masalah, maka intuisi atau perasaannya justru seringkali menolong. Demikianlah gambar yang dihasilkan tangan manusia, tidak pernah bisa menghasilkan gradasi yang sempurna, warna yang benar benar solid, atau garis yang benar benar lurus. Tapi justru karya itulah yang mempunyai "rasa kemanusiaan". Itulah jawabannya, seni karya manusia dengan goresan sepenuh hati tidak akan pernah tergantikan mesin. Manusia juga mahluk yang unik, tidak sama antara satu dengan lainnya. Demikian juga dengan goresan sang seniman, tidak pernah ada yang sama antara satu dengan yang lainnya, bahkan tidak pernah bisa melukis benda yang sama dengan hasil yang sama persis kedua kali. Tidak demikian dengan mesin, yang bisa mereproduksi secara masal secepat kilat dengan hasil yang sama persis.

Bahkan itu pun belum cukup, jika ingin sepenuhnya menjadi penikmat, janganlah melihat karya seni melalui citra yang dihasilkan kamera, layar komputer, layar gadget, media sosial, atau media cetak yang penuh tafsir dari keterbatasan alat-alat tersebut. Tapi pergunakanlah lensa yang sangat sempurna yang diberikan Tuhan, yaitu lensa mata kita, lihatlah karya aslinya, lihatlah pameran, berdiskusi dan selami proses perjalanan kreatif sang senimannya, dan jadikan diri anda manusia seutuhnya!

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top