Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Oleh : Guruh Ramdani


Pernah ada yang bertanya demikian pada saya, "buat apa susah-susah melukis realis (beberapa bahkan melabeli saya sebagai pelukis hyperrealis, walaupun saya tidak pernah merasa demikian), kenapa tidak difoto saja?

Saya jawab demikian, fungsi seni bukanlah untuk memenuhi hal-hal yang bersifat praktis, tapi lebih berfungsi sebagai katarsis atau ekspresi. Jadi selama saya melakukannya dengan senang hati, dan sebagai pelarian dari kejenuhan rutinitas saya sehari-hari atau sebagai ekspresi, ya nggak ada masalah (bahkan yang lebih menyenangkan adalah bisa memberi nilai tambah secara ekonomi).

Alasan kedua adalah, janganlah berpikir bahwa sebuah karya fotografi itu sempurna. Saya berani mengatakan tidak, sebuah karya fotografi tidak sempurna. Karena kamera tidak bisa membuang objek yang mengganggu atau sesuka hati mendapatkan cahaya yang ideal. Seorang pelukis walaupun menggunakan referensi foto pasti akan mengidealkan lagi apa yang dilihatnya dari foto tersebut. Ada objek mengganggu yang dibuang, cahayanya dikontraskan, atau warnanya disesuaikan lagi. Bahkan dalam sejarah fotografi, beberapa teknik meniru teknik tata cahayanya lukisan Rembrandt Van Rijn.

Dan yang ketiga (yang seringkali saya juga heran), mungkin karena ukuran lukisan-lukisan cat air saya belakangan ini cukup besar (rata-rata berukuran 79 X 109 cm) sehingga kalau difoto dan tampilannya diperkecil (apalagi jika dilihat di gadget) seperti lukisan hyperrealisme, dan sekonyong-konyong saya dijuluki pelukis hyperrealis. Bahkan beberapa orang yang baru melihat lukisan saya (tanpa menyelidiki lebih jauh (di medsos ini) menuduh karya saya tersebut sebagai hasil olah Photoshop yang dimirip2kan dengan lukisan. Padahal jika anda melihat lukisan aslinya, karya saya itu tidak berusaha semaksimal mungkin saya mirip-miripkan dengan foto. Bahkan saya agak menghindari hal tersebut, karena saya pernah melakukan, dan hasilnya "rasa lukisannya hilang", sehingga saya punya prinsip, "lukisan realis yang bagus itu ya seperti apa yang ditangkap (terlihat) mata di alam, tapi ya tetap lukisan. Bukan foto." Artinya masih tetap terlihat ekspresif atau goresan kwas dan catnya masih tetap terlihat.

Saran saya, sering-seringlah melihat lukisan aslinya, jangan hanya terpesona pada jepretan foto lukisan yang tampil di media sosial, Karena selain akan lebih menarik, juga akan terjadi transfer of feelings dari sang karya pada penontonnya. Janganlah jadi seniman kuper, merasa cukup tampil di medsos dan merasa hebat, lalu menghakimi orang sesuka hati. Bergaullah, bersilaturahmi dan berdiskusilah dengan sesama seniman, lihatlah pameran-pameran; beraliran apa pun. Dan anda akan mendapati bahwa seni itu sangat luas dan tidak cukup hanya dengan eksis di media sosial lalu ke-GeEr-an ketika mendapatkan stempel like yang banyak...

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top