Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Oleh: Guruh Ramdani

Kurang lebih tiga tahun yang lalu ketika saya sedang menunggu giliran dipanggil guru sewaktu pembagian raport anak di Sekolah Dasar, terdengar dua orang tua (yang juga sedang menunggu giliran) berbincang-bincang di sebelah saya, yang satu seorang ibu dan yang satunya seorang bapak. Karena topik pembicaraannya menarik saya pun akhirnya menguping mereka. 

Isi pembicaraannya kurang lebih begini, “kalau saya sih rangking SD anak tidak begitu penting, bu. Soalnya saya melihat ada anak saudara yang bermasalah karena ditekan supaya selalu punya rangking bagus,” kata si bapak memulai pembicaraan.

“O ya, kenapa memang pak?” Tanya si ibu penasaran.

“Jadi anak saudara saya ini dari kelas satu SD sampai SMA ditekan terus supaya rangking satu. Setiap saat dari kecil disuruh belajar keras, ditambah lagi dengan les ini, les itu, nyaris tidak ada waktu luang untuk bermain. Dan memang sampai kelas dua SMA anaknya bisa mencapai target tersebut. Namun ketika kelas tiga SMA mulai terlihat masalah serius,…”

“Masalah apa pak?” Tanya si ibu semakin penasaran. Demikian juga saya, walaupun tidak ikut nimbrung pembicaraan mereka tapi ikut penasaran.

“Anaknya mogok belajar bu. Sama sekali tidak mau belajar. Bahkan yang paling fatal dia sama sekali tidak mau sekolah. Kerjaannya hanya melamun dan mengurung diri di dalam kamar. Orang tuanya pun kebingungan. Segala cara dilakukan untuk membujuknya supaya mau sekolah. Tapi sang anak sama sekali tidak bergeming…”

“Wah semakin menarik nih,” pikir saya.

“Sampai akhirnya sang anak ditanya orang tuanya, kamu tuh sebetulnya mau apa?” Kata sang bapak melanjutkan. “Jawabannya sungguh di luar dugaan bu. Ternyata dia ingin mobil-mobilan.”

“Ah masa sih segitunya pak?” Tanya si ibu seakan akan tidak percaya.
“Iya betul bu. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Anak segede gitu, yang normalnya sudah puber dan melirik anak gadis, malah main mobil-mobilan, persis seperti anak kelas dua SD! Maininnya pun sambil dibunyikan segala, ngeeeeng, ngeeeng, brumm! Brummm!” Kata si bapak sambil menirukan gaya anak kecil yang sedang main mobil-mobilan…
Pembicaraan mereka selanjutnya saya lupa, tapi kata-kata terakhir tadi begitu menghentak kesadaran saya saat itu. Karena pikiran saya langsung melayang pada ingatan masa kecil saya, yang sangat berbanding terbalik dengan keadaan sang anak dalam cerita tadi. Di mana saya bisa dikategorikan sebagai anak yang malas belajar, kerjaannya main saja, walaupun mungkin karena sekolah saya di kampung yang kualitas pendidikannya lebih rendah dengan di kota besar, rangking SD saya tidak jelek jelek amat. Yah bisa masuk empat besar. Tapi ya itu, ibu saya yang juga seorang guru SD– apalagi guru matematika - di sekolah yang berbeda (ibu tidak pernah menyekolahkan anaknya satu sekolah dengan tempatnya dia mengajar) sangat cerewet menyangkut soal belajar ini. Sebaliknya, entah kenapa saya malah bersikap sebaliknya, yaitu sangat pemalas. Dalam kehidupan saya saat itu yang dipikirkan cuma tiga soal, yaitu main – menggambar – dan baca komik.
Untuk yang terakhir saya lakukan dengan menyewa diam-diam di tempat rental, dengan cara menyisihkan uang jajan. Karena betapa murkanya ibu jika tahu saya baca komik, dan selalu mengancam akan membakar komik sewaan tersebut. Walau sudah saya sembunyikan sedemikian rupa, namun ibu selalu tahu di mana saya menyimpannya, karena saya sangat jorok dan kamar selalu berantakan. Jadi setiap kali ibu membereskannya, beliau selalu menemukan barang yang dianggapnya haram itu. Walau demikian, rupanya ibu hanya gertak sambal saja rupanya, karena tidak pernah benar-benar melakukan apa yang diancamkannya tersebut. Karena beliau tahu itu adalah barang milik orang.
Tapi anehnya, biar nilai matematika SD saya pas-pasan, ibu tidak marah soal itu, tapi kalau nilai pendidikan agama dan PMP saya kecil, baru dia datangi guru saya, dan menanyakan apakah anaknya pernah melakukan tindakan yang kurang ajar di sekolah? Karena ibu menganggap nilai agama dan PMP adalah indikator atau cerminan dari moral saya.
Namun ajaibnya, saya masih diberi keberuntungan masuk SMP dan SMA Negeri, yang saat itu di kota kabupaten seperti Sumedang masih menjadi indikator sekolah dengan kualitas pendidikannya yang paling baik dibandingkan swasta (saya curiga ini adalah dampak dari do’a ibu yang tidak lelah-lelahnya memohon kepada Allah supaya anaknya ini menjadi anak yang berguna). Tentu hal ini bisa diperdebatkan saat ini, di mana sudah banyak sekolah swasta yang kualitas maupun sarana pendidikannya jauh lebih bagus atau bersaing. Walaupun semakin naik tingkat sekolah saya, semakin tidak karu-karuan juga rangking saya. Padahal saya semakin rajin membaca lho! Kalau waktu SD bacaan saya adalah komik silat, maka menginjak SMP mulai rajin baca novel Wiro Sableng dan Kho Ping Ho. Benar kan terjadi peningkatan?
Kelakuan tidak terhormat dan memalukan jadi tukang contek amatiran dan ketahuan guru pun pernah pernah saya alami. Alhasil rangking sewaktu SMP bertengger di atas belasan sampai dua puluhan, semasa SMA ada peningkatan yaitu di atas tiga puluhan dari empat puluh siswa dalam satu kelas. Dan saya lulus SMA dengan NEM 21 dari tujuh mata pelajaran, alias nilainya rata-rata tiga! Sungguh emejing!
Namun situasi berubah seratus delepan puluh derajat ketika kuliah di ISI. Entah karena memang sesuai minat, entah sudah insyaf, atau karena otaknya sudah kebuka – saya tidak tahu – karena ajaib tanpa merasa belajar pun nilai saya bagus-bagus, semua pelajaran seolah-olah masuk dengan sendirinya tanpa dipaksa masuk. Saya pun mulai membaca dan mengenal buku-buku serius, bahkan kesannya kalap. Ketika mendapat honor dari tempat kerja, hampir satu bulan sekali membeli buku, dua sampai empat buah banyaknya. Baca komik sudah tidak doyan, karena bosan ujung ceritanya sudah bisa ditebak, pun demikian dengan Wiro Sableng dan Kho Ping Ho.
Walaupun kuliah sambil kerja, diselingi pacaran, berorganisasi, diputus sang pacar lalu depresi, menenggelamkan diri dalam kesibukan pameran lukisan di dalam dan di luar kampus, dapat pacar lagi, ikut kompetisi seni lukis, nambah pacar lagi, jadi tentor bimbingan belajar, diputus semua pacar dan depresi lagi, namun depresinya dilarang berkepanjangan karena harus KKN, lalu cuti kuliah (ini yang saya anggap paling keren selama kuliah, yaitu boleh cuti! Kesannya dewasa banget gitu loh! Tapi sekarang kalau dipikir-pikir lagi soal ini, kok pemikiran “keren” ini malah kesannya goblok, ya? Tapi ya sudahlah, anda tidak usah ikut pusing memikirkannya, karena itu kan keputusan saya, bukan keputusan anda. Oke?), lalu menyelesaikan laporan TA, dan akhirnya lulus dengan IP 3,47. Meskipun demikian, berakhir dengan tragis, yaitu wisuda tanpa ada pendamping alias jomblo! Mh nasiiib nasib!
Belakangan pekerjaan saya malah berkutat di bidang pendidikan, dan melihat banyak hal di kampus. Ternyata semakin tinggi pendidikan seseorang itu, yang dipelajari semakin spesifik. Jika sewaktu SD kita belajar hampir semua hal namun tahu sedikit dari semua pelajaran tersebut, maka ketika masuk SMP materinya semakin diperdalam, ketika naik ke tingat SMA mulai ada penjurusan, IPA atau IPS (untuk soal ini tolong koreksi saya kalau salah), jaman saya waktu itu masih dibagi berdasarkan kelas Fisika, Kimia, Biologi, dan Bahasa. Untuk kasus saya yang sebetulnya berbakat di ilmu-ilmu humaniora dan seni, karena keinginan ibu saya dicemplungin ke kelas Biologi (Hasilnya ya pasti teler! Ha ha ha!). Sementara di perguruan tinggi, yang dipelajari hanyalah satu minat utama saja, misalkan kalau seni, ya cuma minat utama seni lukis saja. Seni patung pun tidak dipelajari kecuali dalam mata kuliah umum atau mata kuliah pilihan. Perguruan Tinggi Seni pun dibagi menjadi tiga Fakultas, yaitu Seni Rupa, Seni Pertunjukan, dan Seni Media Rekam. Sementara seni lukis ada di Fakultas Seni Rupa. Sekolah Pascasarjana lebih spesifik lagi, penelitian saya di S2 hanya soal prangko. Itu pun seputar ideologi prangko (saja). Demikian juga dengan S3. Jadi jika ada seorang bergelar profesor, sesungguhnya dia bukan orang yang ahli dalam banyak hal. Tapi justru orang yang sangat menguasai suatu hal dengan sangat mendalam. Misalkan professor ahli jagung, profesor ahli budidaya ikan, profesor ahli seni lukis moi indie, dan seterusnya. Jadi jangan tanya soal seni atau robot pada profesor yang ahlinya di bidang kambing.
Nah soal terakhir di atas yang tidak banyak diketahui masyarakat. Artinya begini, jika seorang anak tidak pintar dalam beberapa mata pelajaran, tidak berarti kita menghakiminya bodoh. Mungkin saja sesungguhnya dia jenius dalam satu atau pelajaran-pelajaran tertentu lainnya, dan potensi tersebut malah keluar sewaktu dia kuliah di perguruan tinggi. Atau tidak kurang yang sewaktu sekolah dianggap bodoh, namun ketika lulus tanpa sengaja dia menemukan minatnya lalu iseng-iseng menekuninya, lama-kelamaan menjadi serius, dan malah sukses. Bukankah Einstein juga adalah seorang jenius Fisika namun nilai pelajaran biologinya merah di raport?
Dididik rajin belajar memang perlu untuk menanamkan kebiasaan dan mendidik sang anak merasa punya kewajiban. Tapi ya sewajarnya saja. Karena jangan lupa ada hak anak yang lain, yaitu menikmati masa bermainnya. Jadi tidak perlu terlalu kuatirlah jika sewaktu SD rangking anak kita pas-pasan, sehingga kita bersikap reaktif berlebihan dan menekan anak melebihi kapasitas dan usianya.
Atau jangan-jangan (kalau harus jujur) seringkali kita menanamkan ambisi yang tidak kita capai di masa lalu kepada sang anak. Memang hal ini juga diperparah dengan stereotipe di masyarakat dan seolah-olah ada kasta di dalam pendidikan kita yang berkonotasi bahwa kelas IPA kastanya lebih tinggi dibandingkan kelas IPS, apalagi seni? Apa masa depannya? Walaupun belakangan banyak masyarakat yang terbengong bengong mengetahui bahwa para pelukis sudah banyak yang kaya raya dan dihargai milyaran untuk satu buah lukisannya, sehingga terjadi fenomena banyak orang tua yang berbondong-bondong pula menyekolahkan anaknya ke seni. Huh dasar matre!
Janganlah demikian. Yang bijak adalah, didiklah dan arahkan anak sekolah sesuai dengan minat dan bakatnya. Anak berminat sekolah di jurusan masak memasak? Kenapa dilarang? Tidak bergengsi? Apa urusannya? Kurang banyak apa pengusaha rumah makan atau frenchise usaha makanan yang sukses besar? Tapi harus pula ditekankan, “oke kalau itu pilihanmu, boleh. Tapi kamu harus bertanggungjawab menyelesaikannya dengan tuntas, dan berjuang untuk menjadi yang terbaik di bidangnya!”
Soal rezeki? Tenaaang, Tuhan maha kaya kok! Betapa banyaknya profesi yang dulu dianggap sepele namun hari ini memimpin di depan dari segi penghasilan.
Hal inilah salah satunya yang menjelaskan kenapa anak yang dulunya bodoh bisa sukses di belakang hari (tentunya dengan usaha, do’a, dan perhatian yang tidak mengenal lelah dari orang tuanya. Nggak bener juga jika menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya pada guru di sekolah). Atau kenapa anak yang rangking sekolah dari SD sampai SMA-nya berlian, namun tidak mampu masuk ke perguruan tinggi yang bergengsi.
Demikian, cuma sekedar berbagi. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada kata kata yang menyinggung, atau terkesan narsis. Apabila anda tersinggung beneran, ngak apa-apa nanti saya unfriend saja. Juga apabila ada kesamaan tokoh dan cerita hanya kebetulan saja. Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Jadilah manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; cinta alam dan kasih-sayang sesama manusia; patriot yang sopan dan kesatria; patuh dan suka bermusyawarah; rela menolong dan tabah; rajin, terampil, dan gembira; hemat, cermat, dan bersahaja; disiplin, berani, dan setia; bertanggung jawab dan dapat dipercaya; suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan; kamu cantik-cantik dari dalam hatimu (kok mau-maunya sih baca bagian yang terakhir ini? Kan kurang kerjaan?)

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top