Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Oleh: Guruh Ramdani

Dalam seni rupa, sketsa itu adalah gambar rancangan. Atau gambar yang akan disempurnakan lagi menjadi gambar atau lukisan yang lebih utuh. Bisa merupakan gambar imajinasi, gambar model dengan pose tertentu di studio, atau pun gambar on the spot di alam.

Di beberapa perguruan tinggi seni yang ada jurusan seni rupanya, aktifitas atau mata kuliah sketsa ini merupakan studi tersendiri yang dilakukan secara on the spot (langsung menggambar berhadapan dengan objek-objek yang ada di alam) yang bertujuan untuk; melatih kepekaan sang perupa menangkap esensi benda di alam, baik yang statis (atau diam, seperti pohon dan bangunan) maupun yang dinamis (atau bergerak, seperti manusia dan hewan); melatih spontanitas dan keluwesan tangan dalam menggoreskan alat (pensil, kwas, atau pena); melatih kejujuran dan efisiensi dalam menggores, karena itu biasanya sangat dianjurkan untuk menggunakan alat yang berpotensi salah dan tidak bisa dihapus atau diulang goresannya seperti pena dan kwas; serta melatih mental peserta didik untuk tampil di hadapan publik, karena tentunya jauh berbeda situasinya ketika menggambar di studio dengan di ruang publik yang berpotensi dikerubungi orang banyak.

Setidaknya itu yang biasa dilakukan dalam metode pendidikan seni rupa yang berakar pada barat atau Eropa, yang terlebih dahulu menggunakan (penemu?) cat minyak dan kanvas. Di mana dalam melukis menggunakan cat minyak, goresan yang salah bisa ditumpuk. Karena dalam (kebudayaan) seni rupa China klasik (yang lebih tua dalam menggunakan kertas dan cat air?) sulit sekali dibedakan antara sketsa dan lukisan. Melalui latihan yang keras selama bertahun-tahun (atau mungkin berpuluh tahun), satu goresan lukisan China akan sangat efisien membentuk satu objek yang langsung jadi, langsung diwarnai, dan tidak ada pengulangan. Hasilnya cuma dua; bagus sekali, atau sama sekali gagal. Tapi ya itu, mungkin dari 20 lukisan, hanya satu yang benar benar "sempurna".

Cuma memang fenomena gambar sketsa ini di kemudian hari berkembang jadi semacam "karya seni tersendiri" dan berhenti pada karya sketsa saja, atau tidak diniatkan untuk dilanjutkan menjadi gambar yang utuh, serta diapresiasi lebih, baik oleh perupanya, maupun para stakeholder seni-nya. Belakangan didukung oleh kehadiran media sosial yang semakin mempopulerkannya. Walaupun sebetulnya jauh-jauh hari (untuk yang di tanah air) sebelum Facebook lahir, karya-karya sketsa semacam Rudolf  Bonet atau Barli Sasmitawinata sudah jadi incaran kolektor.

Jadi, jika coretan gambar rancang itu dilakukan secara imajinatif, atau menggunakkan model di dalam studio, apakah sah disebut sebagai karya sketsa? Ya sah saja, karena budaya membuat sketsa ini sudah dilakukan dari jaman "baheula," alias dari dulu kala, sejak sebelum adanya kebudayaan menggambar on the spot, seperti sketsa gambar wajahnya mbah Leonardo Da Vinci yang menggunakan kapur yang sangat terkenal itu, atau sketsa-sketsanya tentang rancangan pesawat terbang, tank, san senjata, atau sketsa mengenai teori anatomi tubuh manusia.


About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top