Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

JIHAD AL QURAN

Muhammad Assiry, 28 Februari 2017


Berawal dari ketelatenan, pengorbanan dan ketulusan. Inilah salah satu diantaranya cara berjihad yang sesungguhnya "membela" eksistensi Al Quran. Bukan dengan demo politik dan bom bunuh diri, apalagi pakai panci hanya ingin bertemu 73 bidadari Surgawi. Inilah Syurga bagi kami dan para Santri PSKQ Modern. Karena dengan menggores bismillah saja dengan indah Allah jaminkan Surga ( Al Hadist).

Semoga Allah memberikan berlimpah -limpah ilmu yang bermanfaat, bercangkir -cangkir keberkahan dan kesuksesan Untuk seluruh Santri -Santri PSKQ Modern, Amiin.

Terus membumikan dan menebar virus-virus kaligrafi Al Quran yang meneduhkan jiwa dengan membuat Mushaf Akbar Indonesia bercorak motif Asli Indonesia. Kenapa bercorak motif khas Indonesia?....
 
Karena motif Indonesia atau khas nusantara sangat kaya bila dibandingkan motif /iluminasi negara manapun di Dunia ini.

Bahkan peradaban Indonesia atau bangsa Nusantara adalah peradaban paling tua di Dunia bahkan jauh lebih tua daripada Mesir Kuno sekalipun.

MUSHAF TERBESAR DUNIA KARYA ASSIRY ART & SANTRI PSKQ - LIPUTAN 6

PSKQ Modern, 27 Februari 2017


MUSHAF TERBESAR DUNIA KARYA ASSIRY ART & SANTRI PSKQ - METRO HARI INI

PSKQ Modern, 27 Februari 2017




VIDEO: Pameran Mushaf di Masjid Istiqlal Siap Sambut Raja Salman


Beragam Mushaf Alquran dan kaligrafi dipamerkan di selasar Masjid Istiqlal, Jakarta.


Liputan6.com, Jakarta - Menyambut kedatangan Raja Salman bin Abdul Aziz pada awal Maret mendatang, mushaf Alquran terbesar di dunia berukuran 2x3 meter persegi dipamerkan di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Senin (27/2/2017), selain mushaf dan beragam foto sejarah Masjid Istiqlal, sejumlah foto Raja Faisal bin Abdul Aziz yang sempat berkunjung ke Indonesia pada 1970 juga ikut dipamerkan.

Beragam mushaf Alquran dan kaligrafi dipamerkan di selasar Masjid Istiqlal, Jakarta. Kegiatan ini digelar dalam rangka milad ke-39 Istiqlal dan kedatangan Raja Salman bin Abdul Aziz ke Jakarta.

Beragam mushaf ini ada yang dari India dan Turki. Para pengunjung juga dapat berfoto dengan latar belakang mushaf Alquran terbesar di dunia yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah.

Foto-foto sejarah Masjid Istiqlal juga turut dipamerkan. Masjid Istiqlal juga telah mempersiapkan segala sesuatu jelang kedatangan Raja Salman, yang berencana salat tahiyatul masjid. Rencananya pameran buah kerja sama dengan Kemendikbud ini akan berakhir hari ini.
Saksikan selengkapnya video bagaimana pameran mushaf jelang keatangan Raja Salman.


Sumber : http://tv.liputan6.com/read/2869589/video-pameran-mushaf-di-masjid-istiqlal-siap-sambut-raja-salman?utm_source=Desktop&utm_medium=facebook&utm_campaign=Share_Hanging#

Merayakan Milad Istiqlal dengan Ibadah, Wisata, dan Belajar

Thursday, 01 Jan 1970
REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh Fuji Pratiwi
 
Pada 1944, ulama-ulama berkumpul di rumah proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Mereka mengusulkan agar dibangun satu masjid jami di ibu kota. Menanggapi permintaan para ulama, Bung Karno setuju. "Jangan kecil-kecil, kita bangun yang besar," kata Bung Karno ketika itu.

Selepas itu, pengumpulan dana diinisiasi. Kumpul-kumpul, dana yang ada ternyata setengah juta rupiah. Bung Karno berdecak. Bukan kagum, tapi karena yakin fulus itu bakal kurang untuk membangun masjid yang raya.

Bung Karno ingin masjid jami di Jakarta ini benar-benar besar. Tidak pakai kayu dan genteng, tapi pakai baja dan beton. Tiang-tiangnya kuat menancap ke bumi.

"Menara Masjid Istiqlal pun akan mencakar ke langit. Dibuat daripada material yang tahan ratusan, bahkan ribuan tahun. Tiap-tiap engkau datang ke hadapan Masjid Istiqlal, engkau akan berkata: alhamdulillah, aku adalah orang, putra Idonesia, dan Indonesia memiliki masjid demikian ini yang menjadi kekaguman dunia," kata Seokarno dalam sambutan pemancangan tiang pertama Masjid Istiqlal pada 1961.

Pemancangan tiang ini terbilang agak lama dari sejak desain Masjid Istiqlal ditetapkan. Pada 1955, dibuat Sayembara Masjid Istiqlal yang dimenangkan oleh seorang arsitek dan seorang Kristen-Protestan taat, Frederich Silaban. Silaban adalah kawan dekat Bung Karno.

Demikian potongan cerita pembangunan Masjid Istiqlal yang bisa dibaca di dinding koridor barat, Teras Raksasa Masjid Istiqlal, Rabu (22/2). Kurator Pameran Arsitektur Masjid Istiqlal, M Nanda Widyarta dan Farid Rakun ingin menonjolkan sisi lain Istiqlal. Sebab, bicara Istiqalal, tak melulu soal keindahan dan kekokohan, tapi juga hasrat Indonesia untuk maju dan siap berkontribusi progresif bagi peradaban Islam.

"Di Solo, nggak ada masjid sebesar ini, bisa tampung banyak orang. Alhamdulillah. Waktu pertama kali lihat, wah besar banget," kata salah satu pengunjung pameran asal Solo, Karima Nur Firdausy mengingat kembali kesan saat pertama kali ia datang ke Istiqlal.

Saat Republika berbincang dengan Karima, Rabu (22/2), ia juga baru tahu ternyata Bung Karno yang menginisiasi pembangunan Istiqlal. Karima tadinya melihat Bung Karno nampak kurang kental keagamaannya, tapi akhirnya memfasilitasi Muslim dengan masjid bagus yang juga bisa dikunjungi umat non-Islam.

Karima bisa jadi bukan satu-satunya yang baru tahu soal latar pembangunan Masjid Istiqlal. Nampaknya tidak heran. Karena inilah kali pertama Istiqlal merayakan hari lahirnya secara formal pada 22 Februari, begitu diakui Wakil Ketua BPPMI Bahrul Hayat.

Pameran arsitektur dan kaligrafi di Milad Masjid Istiqlal ke-39 tahun jadi rehat menyenangan sambil menunggu shalat bagi para pengunjung dan jamaah. Pameran ini juga nampak jadi arena menimba ilmu. Pengunjung pameran nampak bergantian bertanya pada dua kurator Pameran Arsitektur Istiqlal di lokasi.

Sambil menunggu kesempatan berbincang dengan salah satu kurator, Republika sempat mengamati gambar rencana induk area sekitar Masjid Istiqlal pada 1963. Tampak ada gambar penghubung antara Istiqlal dengan Monas. Namun, rencana itu tidak terealisasi.

"Kabarnya rencana ini sedang dihidupkan kembali, meski entah kapan akan terealisasi," kata kurator Pameran Arsitektur Istiqlal, M Nanda Widyarta saat akhirnya Republika berkesempatan berbincang dengan dosen arsitektur Universitas Indonesia itu. Rencana pembangunan penghubung Istiqlal dengan Monas terhenti masalah klasik, dana. Saat itu Indonesia baru merdeka, belum semakmur sekarang. Pembangunan Istiqlal pun baru selesai 1978, pemancangan tiangnya baru dilakukan 1961.

"Kesannya sangat maksa memang. Indonesia kan negara baru yang kalau mau jujur fondasinya lemah. Ini masalah Soekarno agar negara baru ini bertahan. Ya macam-macam yang dilakukan. Tapi untuk arsitektur, tidak bisa mengambil corak dari satu etnis tertentu, etnis lain tersinggung nanti," kata Nanda.

Di Indonesia saat itu sedang hits aliran arsitektur moderen. Nanda menilai, pilihan Bung Karno terhadap gaya dan desain Istiqlal adalah pilihan baik untuk mewakili Indonesia. Menampilkan wajah batu. Karena itu Hotel Indonesia, Gelora Bung Karno, Istiqlal, Gedung Nusantara bercorak moderen. "Pasca kolonialisme, rasa rendah diri itu masih ada. Dengan bisa bangun bangunan monumental, kebanggan bisa naik. Ada aspek spikologis memang," kata Nanda menjelaskan.

Sebagian arsitek percaya bahwa arsitektur bisa mengubah orang, Bung Karno termasuk didalamnya. Istiqlal dibangun di atas Taman Wilhelmina. Saat ada wacana akan bangun masjid, pertanyaannya di mana? Bung Hatta sempat memberi usul dibangun di kawasan Sudirman-Thamrin saja karena saat itu di sana masih banyak tanah kosong kala itu.

Tapi akhirnya diputuskan di Taman Wilhelmina. Dulu, di Taman Wilhelmina ada bekas benteng Belanda dan monumen kemenangan Belanda di Aceh. Bentengnya sempat dijadikan gudang mesiu oleh tentara Indonesia. Tapi yang menyakitkan memang monumen kemenangan atas Aceh.

Di luar Istiqlal, seperti di Taman Suropati, monumen Belanda banyak dihancurkan. "Ini soal melupakan dan mengingat. Menghapus memori kolonial dan membuat memori Indonesia sendiri," kata Nanda. Monumen yang punya memori buruk itu dibongkar dan diganti total dengan masjid. Di satu sisi Indonesia baru selesai dijajah, satu sisi Istiqlal jadi kebanggaan dengan desain yang moderen dan progresif di zaman itu. Ini berpengaruh pada psikologis masyarakat.

Dibangun antara di depan Kathedral, lanjut Nanda, salah satunya karena semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tapi dugaan Nanda, Istana tidak jauh dari Istiqlal. Dalam langgam Jawa, keraton memang tidak jauh dari masjid, dan Monas disimbolkan sebagai alun-alunnya.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/17/02/22/ols8gc408-merayakan-milad-istiqlal-dengan-ibadah-wisata-dan-belajar

Istiqlal dan Visi Kebangsaan Bung Karno

Wakil Presiden Jusuf Kalla membubuhkan sentuhan terakhir pada Mushaf  Al Quran dalam acara Malam Perayaan Milad Masjid Istiqlal ke-39 di Halaman Utama Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (22/2).
Wakil Presiden Jusuf Kalla membubuhkan sentuhan terakhir pada Mushaf Al Quran dalam acara Malam Perayaan Milad Masjid Istiqlal ke-39 di Halaman Utama Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (22/2).
REPUBLIKA.CO.ID,  Masjid Istiqlal memiliki sejarah panjang. Sejak tahun 1950, Menteri Agama KH Wahid Hasyim, sudah mengungkapkan ide membangun masjid di Jakarta. Apalagi, zaman itu, di kawasan Menteng dan sekitarnya belum ada masjid, justru yang ada hanyalah sebuah gereja. Dahulu, di daerah ini, tidak banyak umat Islam tinggal di kawasan tersebut.

Maka, saat berdiskusi untuk menentukan lokasi masjid ini, Wapres Moh Hatta kala itu mengusulkan lokasinya di Jalan Thamrin tepatnya di Hotel Indonesia saat ini. Alasannya sederhana, karena di Tanah Abang dan sekitar daerah tersebut, banyak dihuni umat Islam. Sementara di lokasi mesjid saat ini, dahulu merupakan Pecinan dan sudah ada gereja.

"Tapi Presiden Soekarno memiliki filosofi berbeda. Bahwa di sini kita dirikan masjid, bersanding dengan gereja Katedral untuk mencerminkan bahwa, bangsa ini didirikan dan berdiri bersama-sama," kata Wapres Jusuf Kalla saat menghadiri Milad Masjid Istiqlal ke-39, Rabu (22/2).

Ya, masjid selain posisinya sebagai tempat ibadah dan dakwah, juga memiliki fungsi untuk kesejahteraan masyarakat, pendidikan, dan masjid juga tidak hanya tempat berkumpul, juga tempat berbudaya. "Karenanya, kalau kita ingat Masjid Istiqlal ini, itu karena besarnya juga karena arsitekturnya yang dibuat Frederich Silaban. Jadi lengkaplah, masjid bersanding dengan Katedral dan masjid desainnya oleh seorang Kristen Protestan."

"Jadi kita harus terima kenyataan ini. Bahwa bangsa ini adalah bangsa yang plural satu sama lain. Itu bentuk toleransi, dan toleran berarti semua pihak harus toleran, tidak hanya satu saja, menghargai satu sama lain. Itulah misi mengapa Istiqlal ini dibangun di sini, bukan di sekitar kawasan Tanah Abang. Ini adalah buah visi visioner Bung Karno dari sisi kebangsaan, mengapa masjid ini dinamakan Istiqlal atau kemerdekaan. Dari namanya saja melambangkan banyak hal," ujar Wapres.

Dikatakannya, masjid ini bukan cagar budaya, karena cagar budaya identik dengan masa lalu, tapi masjid ini selalu untuk masa depan. Wapres dalam kesempatan tersebut mengapresiasi kontribusi dan peran relawan dalam aksi membersihkan menara masjid juga kisi-kisi selasar masjid yang berasal dari kelompok organisasi pencinta alam dan unsur masyarakat lainnya berlatar keyakinan yang berbeda.

Wapres dalam kesempatan tersebut, disaksikan Menag Lukman Hakim Saifuddin, Mendikbud Muhajir Efendi, dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, dan Ketua Badan Pengelola Istiqlal M. Muzammil Basyuni meresmikan Mushaf Akbar Alquran ditandai dengan memberi harakat pada ayat suci Alquran Surat Al-Faatihah.

Milad atau ulang tahun Masjid Istiqlal ke-39 dimeriahkan dengan sejumlah agenda kegiatan, selain aksi bersih-bersih masjid, juga digelar pameran kaligrafi, pameran foto dan dokumentasi sejarah pembangunan masjid yang bisa disaksikan masyarakat di teras utama masjid lantai II, serta penampilan group kasidah legendaris Nasyida Ria asal Semarang.

Pengajian kitab kuning

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap Masjid Istiqlal menjadi pusat kajian ilmu-ilmu keislaman di Indonesia seperti Masjid Al-Azhar Mesir. Apalagi, ungkap dia, pengajian kitab kuning yang selama ini dilaksanakan rutin di Masjid Istiqlal bisa menjadi cikal bakal pusat kajian keislaman yang kuat.

"Pengajian rutin ba'da Jumat maupun ba'da shalat rawatib diisi oleh pakar di bidang tasawuf, tafsir, hadis, fiqh dan lain-lain. Tinggal melembagakan," ucap Lukman.

Selain menjadi pusat ilmu keislaman, Lukman juga berharap, Masjid Istiqlal dapat memelopori pelatihan khatib atau dai secara lebih baik dan terprogram. Dia menegaskan, aspirasi masyarakat tentang perlunya standardisasi khatib atau dai perlu dijawab Istiqlal dengan mendirikan pusat pelatihan khatib/dai yang representatif.

Mengapresiasi keterlibatan umat berbagai agama dalam bersih-bersih masjid minggu lalu, putra mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri ini mengusulkan, Masjid Istiqlal juga berperan sebagai pusat kerukunan. "Istiqlal bukan saja simbol kerukunan umat beragama, tapi wadah toleransi umat beragam agama untuk hidup rukun dan berdampingan. Letak Istiqlal yang berdampingan dengan Katedral menunjukkan bahwa umat Islam Indonesia bisa hidup berdampingan dengan umat lain," tegasnya.

Lebih dari itu, di usianya yang ke-39 ini, Istiqlal juga harus hadir sebagai pusat kebudayaan Islam. Menag mencontohkan Taman Ismail Marzuki (TIM), Salihara, atau Bentang Budaya yang menjadi oase di tengah hiruk pikuk kehidupan kota metropolitan Jakarta. Hal yang sama, harusnya Istiqlal dapat menawarkan sentuhan budaya Islam yang sesuai lingkungan kota.

"Puisi, seni musik, dan kaligrafi yang begitu kaya di Indonesia adalah basis budaya Islam yang dapat dikembangkan di Istiqlal," harapnya.

Milad Istiqlal ke-39 ini diisi dengan berbagai kegiatan. Bersih-bersih masjid yang dimotori kelompok pencinta alam dari berbagai latar belakang agama telah dilaksanakan sejak 10-21 Februari 2017.

Milad Istiqlal juga diisi dengan pameran kebudayaan, seni kaligrafi, dan dokumentasi sejarah Istiqlal yang berlangsung dari 22-27 Februari. Pameran tersebut melibatkan seluruh unit pada Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud, mulai dari Direktorat Sejarah, Direktorat Kesenian, Direktorat Pelestarian Budaya dan Kemuseuman, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Kepercayaan dan Tradisi, Museum Nasional, serta Galeri Nasional.

Seremonial Milad Itiqlal ditutup pada 27 Februari 2017 dengan penyelenggaraan forum diskusi dalam menggali kembali nilai-nilai kebinekaan dan kebangsaan, presentasi sejarah Masjid Istiqlal, serta pertunjukan musik dan qasidah.

Milad Istiqlal ini kali mengangkat tema 'Istiqlal, Keislaman, dan Keindonesiaan'. Tema ini dinilai relevan dengan kondisi sekarang untuk menyegarkan kembali ingatan bangsa tentang pentingnya merawat cita-cita kemerdekaan dalam semangat kebhinekaan. Sesuai namanya, selain menjadi simbol kemerdekaan, Masjid Istiqlal juga menjadi simbol Islam moderat dan sekaligas ruang pencerahan umat.

Pemancangan tiang pertama pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan Presiden Soekarno pada 24 Agustus 1961, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Masjid yang terkenal sebagai simbol kemerdekaan dan persatuan bangsa Indonesia ini penggunaannya diresmikan pada 22 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto. Sejak saat itu, Masjid Istiqlal digunakan untuk berbagai aktivitas peribadahan, termasuk yang berskala nasional. 
 
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/02/23/olt603396-istiqlal-dan-visi-kebangsaan-bung-karno

DUA BOOM

Assiry gombal mukiyo, 27 Februari 2017


Boom Bandung ternyata belum seberapa
Hanya satu orang pelakunya yang binasa.
Tetapi boom yang satu ini sungguh ledakannya
Mampu meluluh lantakkan setiap hati
Bahkan jutaan jiwa makin berkeping -keping jadinya

MUHAMMAD ASSIRY SENIMAN KALIGRAFI INDONESIA YANG MENDUNIA

PSKQ Modern, 27 Februari 2017

 

Dengan membahas tema-tema yang melampaui batasan-batasan geografis, politis dan sosio-kultural dengan kepekaan dan kecanggihan, seniman-seniman muslim terus mengembangkan diri di antara para praktisi seni dunia.

Ketika Pablo Picasso dengan ringkas mendeskripsikan seni sebagai suatu hal yang ‘membasuh jiwa dari debu kehidupan sehari-hari, Jauh sebelumnya Yaqut Al Musta'shimi Kaligrafer Iraq juga sudah menemukan bahwa Seni Kaligrafi sebagai arsitektur ruhani.

Dalam dunia Islam, berbagai bentuk karya seni, mulai dari puisi yang fasih, prestasi arsitektur yang gemilang hingga goresan kaligrafi yang indah diciptakan untuk mensyukuri budaya yang beragam, seperti sebuah pemersatu keyakinan yang dilakukan oleh dinasti Ottoman, Bani Umayyah, Mogul, Bani Abbasiyah dan lainnya. Memasuki abad 21; tradisi yang kaya ini berlanjut semakin memukau bagi hati yang terus terpaut akan nilai keindahan.

Muhammad Assiry adalah seorang Seniman Kaligrafi yang unik dan nyentrik. Ia mempersembahkan sederet pilihan seniman muslim terpandang yang telah membuat penanda abadi dalam dunia seni Khususnya kaligrafi masa kini.

Sebagai seorang warga Indonesia yang lahir di Kampung tepatnya di Desa Undaan Lor, Rt.03/01, Kudus Indonesia, menjadi sebuah kebanggaan Indonesia. Karya-karya Assiry dapat dikatakan sebagai sebuah petualangan pencarian jati diri. Ia berkarya di atas kanvas, kayu, dinding Masjid, kertas, logam, kaca dan lainnya. kejeniusan Assiry terbukti pada keahliannya dalam memadukan seni kaligrafi dengan Seni Lukis modern dan 3D dengan berbagai media. Karya kaligrafinya menghiasi ratusan Masjid di Indonesia.

Bahkan ia membuat dan menciptakan Mushaf Akbar Indonesia yang bercorak motif khas Indonesia dengan memasukkan unsur motif dan iluminasi selruh propinsi di Indonesia.  Bersama Santri -Santrinya ia mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam pengerjaan Mushaf yang terbesar di dunia itu. Mushaf akbar Indonesia tersebut berukuran 2x3 meter dengan menggunakan bahan kanvas yang dipamerkan di Masjid Istiqlal mulai tgl. 21-sampai 3 Maret untuk menyambut lawatan Raja Salman ke Indonesia.

"Ini adalah Mushaf kebanggan Indonesia karena seluruhnya menggunakan ragam khas motif batik Indonesia" begitu kata Assiry pasca peresmian Mushaf Akbar Indonesia itu oleh Wakil Presiden Yusuf Kala dengan menggoreskan tanda baca pada tulisan bismillah pada Rabu malam 24 Februari 2017. 

Rencananya Mushaf akbar Indonesia itu akan dibuatkan Musium oleh Raja Salman di selasar raksasa Masjid Istiqlal untuk menyimpannya.

Ia menjelaskan, ‘Saya merasa saya membawa tradisi budaya ke dalam realitas kehidupan modern sambil tetap mempertahankan warisan budaya saya yakni budaya indonesia yang kaya dengan hasanah motif yang lebih kaya dari ragam ornamen bangsa manapun di dunia ini.’

Lebih jauh Assiry mengungkapkan bahwa ia mengikuti tradisi awal dari belajar kaligrafi dan kemudian mengajarkannya kepada siapa saja secara gratis yang ia mulai dari Pesantren Kaligrafi PSKQ Modern yang ia dirikan pada tgl. 17 Januari 2007. Kemudian berkeliling mengajar dengan membuka Workshop dan pelatihan Kaligrafi dan Seni Rupa terapan dari kampus satu ke kampus yang lainnya secara gratis juga. Tercatat Assiry rutin ke Kampus UIN Walisongo Semarang dan UIN Kalijaga Yogya yang setiap bulan ia mengisi pelatihan dan Workshop tersebut.
20 tahun sejak remaja ia berjuang dan terus membumikan kaligrafi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa yang penting adalah apa yang diajarkan itu bisa memberi manfaat untuk sesama.

Karya-karya Muhammad Assiry dikoleksi oleh para pejabat pemerintahan di Indonesia diantaranya : dikoleksi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bpk.Muhadjir Effendy,  Dirjend Kebudayaan Pak Hilmar Farid, Wakil Presiden Bapak Yusuf Kala, dan para kolektor Dunia dari Malaysia, Brunai Darussalam, Thailand dan Singapura sejak ia meraih Juara 1 Kaligrafi di tingkat Asean di Brunai Darussalam pada tahun 2002 dan 2006, puluhan penghargaan kaligrafi dari Tingkat Nasional dan Internasional ia dapatkan. Bahkan dari tangan dinginnya kader -kader binaannya mampu berprestasi Juara 1 dan juara nominasi kaligrafi tingkat Nasional dan Internasional di Iraq, Malaysia, dan Turki, mulai tahun 2012 sampai sekarang.

Ia menjadi orang berkebangsaan Indonesia pertama yang mengajar kaligrafi keliling dari kampus satu ke kampus yang lain secara gratis setiap bulannya. Selain kesibukannya mengajar di Pesantren Seni Rupa dan Kaligrafi Quran miliknya ia juga aktif mendekor puluhan Masjid setiap bulannya yang tersebar di beberapa Propinsi di Indonesia dan Mancanegara.


Admin PSKQ 

RISA DENGAN RAMAH MENJAWAB SETIAP PERTANYAAN DARI PENGUNJUNG PAMERAN KALIGRAFI DI MASJID ISTIQLAL

Assiry gombal mukiyo, 26 Februari 2017



























 
Mbak Risa dara asli "ndeso" ini narsis terus didepan karya pameran.hhhhh....

Selain aktifitasnya sebagai Guru TPQ di Pesantren milik kakaknya Risa juga menyempatkan belajar kaligrafi di PSKQ Modern secara online.

Biarpun ndeso ia menggantikan Duta Kaligrafi PSKQ Modern yang berhalangan. Bukan cuma narsis, tetapi ia juga ramah dan sopan menyambut para tamu pameran baik dari dalam maupun luar negeri yang mengunjungi pameran kaligrafi. Keahlian Bahasa Inggrisnya pernah ia asah di Kampung Inggris Pare. 

"Risa" panggilan akrabnya lihai dalam memberikan arahan seputar kegiatan Festifal Istiqlal dan seluruh karya -karya kaligrafi yang ditampilkan khususnya karya-karya kaligrafi lukis maupun tezhip mushaf karya Santri-Santri PSKQ Modern yang mendominasi karya pameran Nasional Milad Istiqlal ke-39 di Teras Raksasa Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

PSKQ Modern dan CV.Assiry Art terus menebarkan virus-virus kaligrafi yang meneduhkan jiwa dan membumikan kaligrafi Al Quran dipenjuru bumi.

BERKUMPUL BERSAMA KAWAN-KAWAN ALUMNI MAN 2 KUDUS

Arjuna Resto, 26 Februari 2017





-Malam ini belum sempat saya pulang ke rumah setelah perjalanan dari Masjid Istiqlal ada kawan -kawan alumni MAN 2 Kudus angkatan 1997 yang berkunjung ke Arjuna Resto. Alhamdulillah, kebahagiaan bagi saya ketika bisa kumpul dan bertemu dengan kawan -kawan meskipun padatnya acara saya.

- Tidak dinyana berawal dari rembug dan silaturrahim saya dengan beberapa kawan-kawan alumni seangkatan yang ada dalam foto paling kanan (Mas Plompong dinas di Polres Kudus), Mas Dhowek, dan Mas Arief Wijaya Kusuma.

- Dalam kesempatan tersebut saya menyatakan untuk mendirikan Rumah yatim yang bergerak untuk membantu ananda Muhammad Farhan dan adinda Habibah kedua putra Mas Sinyo Mustakim Al marhum yang meninggal pada hari Minggu tgl. 19 Januari 2017.
Semoga pertemuan malam ini di Arjuna Resto (Bascamp Tajug Syahadat) yang menjadi pusat kegiatan pengajian " Ngopi budaya" bulanan Pskq Modern Kudus Jateng membawa berkah dari Allah bagi siapa saja, Amiiin. 

- Akhirnya saya dan kawan -kawan yang hadir patungan sehingga terkumpul dana 1 jt sebagai pemantik awal agar Rumah Yatim tersebut bukan lagi sebuah rencana tetapi langsung menjadi sesuatu yang nyata dan terus bergerak kearah yang lebih konkret dan lebih bernilai untuk mengisi kegiatan kawan -kawan MAN 2 Kudus kedepan yang bukan hanya sekadar acara "grubyak -grububyuk", cengengesan dan acara yang gebyarnya sesaat.

- Saya meyakini bahwa apapun yang diberikan semua kawan -kawan ikatan alumni MAN 2 Angkatan 1997 untuk kedua anak Mas Sinyo hingga dewasa dan mandiri kelak dengan membagi kasih sayang sebagai pengganti Bapak menjadi sedekah jariah yang memberikan manfaat yang berlipat -lipat. Amiiin.

Shallallahu 'ala muhammad, Bismillahi tawakkalna 'alallahi la haula walaa quwwata illa billah.

TAJUG SYAHADAT EDISI-3 "DUKA CIATA KEBERAGAM[A]AN BANGSA"


Sumonggo Rawuh

Ngopi Budaya ‘TAJUG SYAHADAT’
Meretas Nalar Menetas Nala

Edisi ke-3 (Maret 2017)

Tema: Duka-Cita Keberagam[a]an Bangsa

Sabtu, 4 Maret 2017
Jam 19.30 WIB
Arjuna Resto & Kedai Kopi Ndeso
Jl Lingkar Utara Gondangmanis Bae Kudus (Barat UMK)
GRATIS UNTUK UMUM

DEMONSTRASI AKBAR LUKIS KALIGRAFI ISTIQLAL 2017

Muhammad Assiry, 24 Februari 2017




















Hari ini Jumat, 24 Februari 2017 Saya bersama Mas Amien Salatiga dan Irfan Ali Nasrudin setelah Workshop Kaligrafi, kemudian sehabis jumatan menggebrak kanvas dengan melukis di atas kanvas secara langsung.

Saya sendiri menyelesaikan 2 lukisan sekaligus dalam waktu setengah jam. Tentu ini waktu yang sangat tidak lazim. Karena saya melukis sudah seperti syetan yang sedang mabuk. Melempar kuas, menumpahkan cat acrylic yang saya ambil semuanya dari PSKQ Shop seenaknya saya, mencipratkan air, memutar kanvas, njengking, nungging, gulung-gulung dan saya tidak ambil pusing meskipun ratusan pengunjung menonton aksi saya. Bahkan sesekali saya sambil ngangkang, entah kenapa saya harus seperti itu. Anggap saja saya kerasukan atau saya yang sedang kesetanan ?

Alhamdulillah dua lukisan saya hasil demonstrasi langsung dikoleksi oleh Dirjen Kementerian Kebudayaan dan Pengelola Istiqlal.

Tapi yang pasti saya melukis dengan kesadaran yang tinggi. Lafadz yang saya lukis adalah " Allah" dan "Muhammad". Tentu penghayatan yang tinggi pula kenapa saya memilih 2 Asma yang begitu Agung dan Anggun itu. Jawabnya adalah karena didalam perhelatan akbar, acara akbar, Mushaf akbar, pokoknya yang serba akbar ini adalah tentu karena Allah dan Rasulullah begitu berperan dalam hening saya yang meluruhkan segala ide, gagasan dan imajinasi bersama Team Panitia Festival Istiqlal dalam menggelorakan sebuat tekad untuk terus membumikan Al Quran dengan membuat Mushaf Akbar Indonesia bersama Santri -Santri PSKQ Modern Kudus dengan corak nusantara yang sangat kaya khasanah dan budaya.

Acara peringatan milad ini memang sudah semestinya menjadi pengingat umat muslim untuk mengedepankan sikap toleran. Sejarah pembangunan Masjid Istiqlal yang melibatkan tangan handal arsitek Friederich Silaban, seorang penganut Protestan sekaligus anak pendeta dari Sumatera Utara adalah sebuah bukti sejarah yang tidak akan lekang oleh waktu, bahwa bangsa ini adalah bangsa yang berbhineka tunggal ika.

Kita tidak boleh lupa visi pembangunan dari yang memprakarsai masjid ini yaitu Presiden Soekarno. Beliau bukan tidak sengaja ketika memilih Friedrich Silaban, Bung Karno dengan kesadaran yang penuh memilih seorang nasrani yang taat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Bpk.Muhadjir yang memilih salah satu lukisan saya untuk dikoleksinya juga menjanjikan Festival Istiqlal ini menjadi acara tahunan untuk menarik lebih banyak lagi pengunjung dari berbagai latar belakang agama.

Istiqlal akan jadi pusat peradaban dan simbol inklusifme dan sebagai salah satu upaya untuk mengembangkan potensi di sektor pariwisata jika ini dikelola dan diberdayakan dengan baik.

Semoga PSKQ Modern & CV.Assiry Art terus khidmah dan mengabdi untuk negeri ini dengan terus menebarkan virus -virus kaligrafi yang meneduhkan jiwa.

Seni kaligrafi ternyata juga sebagai media pemersatu bangsa. Terbukti banyak tamu asing bahkan banyak juga yang beragama non Islam ikut mengunjungi Pameran Kaligrafi dan melihat langsung Mushaf Akbar Indonesia.

Illustrasi:
Tampak berpose didepan 3 karya saya Mushaf Akbar Indonesia, Kaligrafi abstak Allah dan Muhammad.
Aula Raksasa Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Top