Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Oleh: Guruh Ramdani



PENGANTAR

Saya melihat di media ini, banyak sekali terjadi perdebatan mengenai aliran dalam seni rupa. Namun kalau dicermati, rata-rata argumentasinya lemah, dan hanya didasari atas pengalaman dan perasaan pribadi saja, tanpa didasari data maupun landasan yang kuat mengenai dasar-dasar teori dan sejarahnya. Melihat hal tersebut, dan melalui masukan dari beberapa teman di media sosial ini, saya bermaksud untuk berbagi, yaitu menuliskan ulang mengenai sejarah seni rupa modern secara serial, yang diawali dengan kemunculan Neo Klasikisme dan diakhiri dengan Abstrak Ekspresionisme. Supaya apa yang banyak diperdebatkan menjadi jelas duduk persoalannya. Bukan karena sentimen pribadi, atau atas dasar kesukaan atau ketidak sukaan pada suatu aliran seni tertentu sehingga berakhir dengan debat kusir.

Tulisan-tulisan ini saya sarikan dari beberapa buku dan modul kuliah selama saya menempuh kuliah di Minat Utama Seni Lukis, FSR ISI Jogja. Maka sebelumnya menjadi kewajiban saya untuk berterima kasih kepada para guru saya yang telah memberikan ilmu, terutama dalam hal ini adalah Prof. Soedarso SP, dan pak Wardoyo Sugianto yang telah membuka cakrawala saya mengenai sejarah seni rupa dunia. Semoga amal baik beliau-beliau diberikan ganjaran yang setimpal Aaamiiin…, dan semoga saya pun diberikan tenaga, waktu dan kekuatan untuk menyelesaikan proyek ini, dan mudah mudahan ada manfaatnya.

Bagi teman teman yang jauh lebih faham soal ini, juga dimohon masukannya. supaya tulisan ini menjadi lebih kaya. Terima kasih...

KEMUNCULAN KAUM SENIMAN YANG UNIK DI MASYARAKAT

Akibat munculnya aliran Romantikisme dengan emosionalisme dan sensitivitas seniman-senimannya, timbullah kelas baru dalam masyarakat, ialah kelas seniman yang sedikit demi sedikit makin banyak berbeda dengan anggota masyarakat lainnya. Akhirnya kelompok baru di masyarakat ini menjadi semacam “displaced persons” yang tidak cocok dengan anggota masyarakat lainnya.

EUGENE DELACROIX

Eugene Declaroix (1798-1863) adalah salah satu contoh seniman dari golongan “bohemia” awal ini. Jiwanya yang romantik itu erat tertambat pada seninya, dan seluruh hidupnya diabdikannya kepada lukisannya. Wajahnya yang simpatik dan pribadinya yang unik ini jelas dilukiskannya dalam “Potret Diri”-nya (1837).

Dipandang dari sudut intelektuasinya, Delacroix bukan seorang romantik. Keromantikannya tidak mudah terasa, karena bersifat teoritis. Ia sendiri menyatakan dirinya sebagai seorang “Klasikis sejati” (sebagai lawan dari klasikis-klasikis palsu yang terdahulu, menurut anggapannya) yang biasa menggeneralisasikan pengalaman-pengalaman kemanusiaan sebagai symbol yang universal (baginya venus bukan saja wanita cantik, melainkan segala macam kecantikan). Namun obyek-obyeknya: orang-orang Arab, singa-singa, pasha dari Turki, dsb., menunjukan salah satu segi keromantikan (objek objek serupa banyak pula digarap oleh Raden Saleh yang pada tahun tahun tersebut sedang menempuh studi di Eropa. Raden Saleh pun dikenal sebagai pelukis Romantik).

Karier Delacroix terbuka setelah kesuksesannya di Salon tahun 1822 dengan lukisannya “Dante dan Virgilius di Inferno”. Sebagaimana Gericault (teman dekatnya), ia juga pemuja Rubens dan Michaelangelo. Dalam karya pemenang Prix de Rome ini jelas sekali pengaruh guru-gurunya itu, dan nanti, dalam pewarnaan Declaroix banyak mendapat pelajaran dari pelukis Inggris John Constable yang pada waktu itu karya karyanya sedang dipamerkan di Paris. Warna-warnanya berjajar-jajar tidak banyak dicampur di atas kanvas, sehingga warna warna tersebut terasa lebih segar, cemerlang, dan spontan. Para klasikis menyebut sapuan kuasnya “drunken broom,” sapuan kuas yang menggila, karena biasanya mereka mendusel halus-halus bekas kuasnya. Bagi Jack Louis David warna berfungsi sebagai dekoratif saja, pengisi bidang dari bentuk-bentuk yang sudah digambar dengan teliti. Sedangkan buat Declaroix warna juga bertugas memberi bentuk (konstruktif, seperti nanti akan banyak dilakukan oleh Cezanne), warna biru umpamanya, bisa saja ditutul dengan ungu atau hijau, atau apa saja (seperti halnya nanti karya-karya Manet). Warna-warna yang demikian itu dapat kita temui pada karyanya yang menggemparkan juga, yaitu “Massacre de Scio” (1824) yang banyak mendapat tantangan, bahkan oleh Gros sendiri yang dulu dengan gigih mempertahankan Inferno-nya. Gros menyebut lukisan ini bukannya “Pembunuhan besar-besaran di Scio”, melainkan “Pembunuhan besar-besaran terhadap seni Lukis.”

Delacroix gemar sekali akan obyek-obyek oriental (ketimuran, lawannya oksidental), terlihat pada lukisannya antara lain, “Kematian Sardanapalus” (1827), “Perburuan Singa” (1861), dan “Perampasan Rebecca” (1846).

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top