Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Assiry gombal mukiyo, 2016

Betul memang ketika kita sedekah dengan ikhlas Tuhan memberikan jalan yang luas bagi dipertemukannya keberkahan atas rizki kita. Sedekah itu mirip hukum kekekalan energeri maupun entropi. Apa yang kita berikan essensinya tak ada yg hilang, semua berlangsung didalam dealektika kemesraan dengan Tuhan yang Maha Kaya.
Jika orang hidup itu niatnya pokoknya hanya " mung gawe apik lan becik" hanya niat melakukan kebaikan maka apapun itu entah materi, uang atau nafkah yang anda dapatkan justru lebih melimpah daripada ketika tujuan hidup kita adalah mencari uang semata.
Tentu ini berbeda dengan “Kiai Yusuf Mansyur” yang demikian heroik menafsirkan Qur’an dengan “teori” sedekah versinya. Benar dalam Al Qur’an Allah SWT menjanjikan akan melipatgandakan amal kebaikan menjadi 700 kali dan seterusnya, namun tentu ini harus dimaknai dalam hubungan “rasa cintaNya” kepada kita, dan bukan hubungan matematis-kapitalistis. Kalau terjebak dengan cara pandang Kiai Yusuf Mansyur maka orang yang bersedekah bukan dalam kerangka taqwa dan tawakal, melainkan dalam hubungan dagang. “Ini lho Tuhan aku sudah bersedekah, mana imbalan 700 kali itu?”, barangkali ini yang dicari manusia.
Padahal Allah SWT sudah bernjanji akan memberi rezeki dari arah yang tidak diduga-duga dan akan mencukupkan segala kebutuhan kita, dan Allah hanya meminta dua hal dari kita: taqwa dan tawakal. Taqwa tentu terkait dengan kemesraan cinta antara hamba dan Tuhannya dan tawakal adalah term yang tidak terpisah dari kata kerja. Orang yang tidak pernah bekerja dalam kebaikan tidak boleh mengklaim dirinya tawakal hanya dengan jalan menyerahkan diri saja kepada Allah SWT. Sederhana saja, Allah telah berbagi kepada kita secara demokratis. Kita sudah diberi berbagai fasilitas di alam semesta ini, dan tentu saja ada pembagian tugas atau sharing. Ada qudrah dan ada iradah.
Kalau kita menaruh motor tanpa terkunci dan kemudian kita berdoa kepada Allah agar motor itu tidak hilang, maka ketika motor itu benar-benar hilang jangan kemudian kita mengkambinghitamkan Tuhan atau setidaknya kita bicara takdir.
Ungkapan “urip mung gawe apik lan becik”, dalam bingkai kapitalisme akan ditertawakan. Dalam prinsip kapitalisme, modal harus sekecil-kecilnya dan untung sebesar-besarnya. Karena yang dicari hanya materi atau keuntungan semata, maka efek sampingnya justru “tidak untung”. Dalam kapitalisme yang muncul bukan “kebecikan” yang berbuah “materi”, namun justru kerusakan dan kehancuran. Padahal Allah dengan tegas melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi ini.
Kapitalisme saat ini bagai “agama baru” yang menyembah api. Kaum kapitalis dengan berbagai cara terus menempuh sampai si konsumen merasa kehausan dan bernafsu untuk melepaskan dahaga itu. Para birokrat negara yang begitu fasih berkolaborasi dengan para pemilik modal, sampai dalam membangun negara tidak memperhatikan kebudayaan dan hanya akan menjadikan negara yang “beragamakan api”.
Belilah dagangan mereka yang lemah dan papa kalau perlu lebihkan tanpa perlu menawar, toh tidak menjadikanmu miskin dan juga tidak menjadikan mereka langsung kaya. Mereka begitu perkasa meskipun usia senja, tidak melacurkan diri dan menghancurkan martabatnya sebagai manusia yang menghamba kepada kepengemisan.
Meskipun renta mereka tetap berdiri, bekerja dan terus mengais rizki dari rahmat Allah. 
Ditengah -tengah penjajahan kapitalisme ekonomi yang maha dasyat ini kita tidak boleh melupakan bahwa tujuan hidup adalah "mung gawe apik lan becik".

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top