Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9


Muhammad Assiry, 21 Juni 2014

Sejak sebelum ada Nabi Adam diciptakan Tuhan, sudah ada kesimpulannya dan semua makhluk sepakat -wong ketika Tuhan mau bikin manusia saja Malaikat ngenyang (protes): “Apakah Allah akan menciptakan manusia, yang toh kerjanya membuat kerusakan di bumi, termasuk merusak dirinya sendiri, serta menumpahkan darah… Soalnya Malaikat sudah punya referensi: dulu manusia (yang diselidiki Darwin) itu kerjanya merusak dan akhirnya musnah sendiri. Kemudian, Tuhan mau bikin lagi dan dimulai Adam: Malaikat gelisah hatinya dan cemas ketika proses awal Tuhan merencanakan untuk menciptakan adam sebagai khalifah di bumi..
Yang menjadi tema utama pembahasan saya itu ada dua kenyataan. Pertama, tidak ada wanita yang sejak awal memang bercita-cita menjadi pelacur. Tidak ada gadis berdebar-debar hatinya membayangkan alangkah indahnya kalau bisa menjadi tuna susila, sehingga berdoa “Ya Allah, jadikanlah aku wanita tunasusila. Fa ila hadzihiu’niyyah assholihcih alfaaaatihah. … Kedua, tidak ada wanita tuna susila yang meningkat kariernya dan sampai ke puncak. Perawannya seharga setengah juta rupiah, kemudian mulai dinas dan harganya jadi 600 ribu rupiah, terus meningkat sampai sejuta, dua juta, tiga juta.
Tidak ada pelacur yang makin lama makin cantik, makin seksi, makin senok bahenol, makin segar, makin semlohay dan makin nggojos markojos. Sebagaimana semua makhluk, jasmaniyahnya diikat oleh hukum keausan. Makin lama makin aus, keriput, melorot, tua, karena gardu terdekat masa depannya adalah kematian.

Maka, harus diendapkan kedalam irama syahdunya yang meluruh bersama jalan menuju Tuhan. Agar setiap tuna susila kita pandu bersama untuk memiliki pengetahuan masa depan tentang dirinya sendiri. Sampai berapa tahun lagi ia akan bisa bertahan. Kemudian, bersikap tegas dan realistis bahwa sekian tahun lagi dia, mau tidak mau, sudah harus berhenti. Untuk itu, sejak sekarang ia perlu mempersiapkan
keterampilan untuk kelak menggantikan pekerjaannya yang sekarang, bisa dibekali apa saja bisa menjahit, melukis atau kaligrafi barangkali, tataboga salon at u apapun itulah. Pak Kiai, Pak Ustadz, Pak Pastor, Pak Pendeta, Pak lurah, dari Camat, semua pihak saeyeg saekoproyo (kompak ) mengantarkan para wanita itu mempersiapkan diri menuju masa depan yang realistis.

Ini berlaku tidak hanya untuk orang-orang yang melacurkan jasmaninya. Tetapi,juga berlaku untuk siapa saja yang menjual nilai, menjual demokrasi dan reformasi, menjual amanat rakyat, menjual kesucian tangan rakyat ketika mencoblos di Pemilu, menjual negara, menjual harga diri manusia. dan bangsa.

Para pelacur politik Indonesia hari-hari ini juga sedang memasuki salah satu fase puncak keausan dan pengausan. Siapa saja yang terkoptasi dan terkontaminasi segera akan menjumpai dirinya aus sebentar lagi.
Nabi Yunus As, bisa keluar dari perut ikan hiu setelah ia memanjatkan doa pada Allah. 

"LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN
(Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungghnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). 

Marilah kita bersama 2 membaca doa itu seperti saat Dzun Nun (Nabi Yunus as.) berada di perut hiu itu, agar para sahabat , teman dan saudara kita yang hidup terjerembab dalam perut sistem negara yang amburadul ini terbebas dari itu semua. Sesungguhnya lokalisasi sama saja dengan perut ikan hiu.

About Elsya Vera Indraswari

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top