Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Assiry gombal mukiyo, 2016


Masih ingatkah kita dengan adagium Ditepuk air di dulang, tepercik muka sendiri. Dulang ialah talam (baki) dari kayu atau tembaga. Ditepuk diumpamakan sebagai aib orang lain yang diceritakan.
 
Jika ada air di dulang, kemudian air itu ditepuk, air itu dapat mengenai (memerciki) muka orang yang menepuk air itu. Jadi, adagium atau peribahasa itu mempunyai arti orang yang menceritakan aib orang lain sama saja dia telah memberikan pintu agar tebukany aibnya sendiri.

Konon Usai shalat ashar di masjid Quba, seorang sahabat mengundang Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam beserta Sahabat lainnya untuk menikmati hidangan daging unta yang lezat di rumahnya. Ketika sedang asyiknya makan, ada tercium aroma tidak sedap. Rupanya diantara yang hadir ada yang buang kentut. Kentut seperti ini memang yang sangat mematikan suasana nyaman. Biasanya kentut seperti ini tidak terdengar suaranya tapi baunya sangat dasyat. Akhirnya para sahabat saling menoleh seakan ingin mengetahui siapa yang tega-teganya kentut disaat makan baru dimulai. Wajah Rasulullah sedikit berubah melihat situasi seperti itu Maka tatkala waktu sholat maghrib hampir masuk, sebelum bubar, Rasulullah berkata: "Barangsiapa yang makan daging unta, hendaklah ia berwudhu!". Mendengar perintah Rasulullah tersebut maka seluruh jamaah mengambil air wudhu. Dan terhindarlah aib orang yang kentut tadi. Sungguh indahnya akhlak Rasul.

Kalau saya adalah satu diantara sahabat itu pasti sudah saya operasi satu persatu sampai ketemu pelakunya. Inikan mengganggu stabilitas selera makan ko begitu kurang ajarnya disaat makan enak tetapi buang kentut sembarangan. Kalau perlu saya periksa dengan saya ciumi pantatnya satu-persatu sampai ketemu siapa Pelakunya.
 
Untung Nabinya bukan saya tetapi Rasulullah Muhammad SAW. Yang begitu agung dan luhur akhlaknya. Tidak sedikit diantara kita ketika ditengah keseharian kita justru pembicaraan dan obrolan itu sepertinya tidak asyik kalau tidak membicarakan aib, cacat, kejelekan, dan kekurangan yang ada pada orang lain. Meskipun itu terhadap orang yang lebih tua dari kita, bahkan Guru-Guru kita tidak luput dari gunjingan kita. 

Omong ngalor ngidul tentang si A yang hamil diluar nikah, yang hobby pijat plus misalnya, yang demen karaoke, atau membicarakan dan mengumbar pembahasan terhadap orang lain yang belum tentu kebenarannya.

Pada zaman nabi Musa 'alaihis salam, Bani Israil pernah ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata , "Wahai Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami." Maka berangkatlah nabi Musa 'alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas bersama lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan kondisi yang lusuh penuh debu, haus dan lapar.
 
Musa berdoa, "Wahai Tuhan kami turunkanlah hujan kepada kami, tebarkanlah rahmat-Mu, kasihilah anak-anak dan orang-orang yang mengandung, hewan-hewan dan orang-orang tua yang rukuk dan sujud."

Setelah itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. Kemudian Musa berdoa lagi, "Wahai Tuhanku berilah akmi hujan".
 
Allah pun berfirman kepada Musa, "Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Keluarkanlah ia di depan manusia agar dia berdiri di depan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian. "
Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, "Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun."
Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri, maka tak seorang pun yang keluar di depan manusia, saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud.
Ia berkata dalam hatinya, "Kalau aku keluar ke depan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun. "
Maka kepalanya tertunduk malu dan menyesal, air matanya pun menetes membanjiri pipinya, sambil berdoa kepada Allah, "Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah taubatku. "
Belum sempat ia mengakhiri doanya maka awan-awan tebalpun bergumpal, semakin tebal menghitam lalu turunlah hujan.
Nabi Musa pun keheranan dan berkata, "Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di depan manusia."
Allah berfirman, "Aku menurunkan hujan karena seorang hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun."
Musa berkata, "Ya Allah, Tunjukkan padaku hamba yang taat itu."
Allah berfirman, "Wahai Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku akan membuka aibnya sedangkan ia telah bertaubat dan taat kepada-Ku?!"
Setiap orang pasti memiliki kekurangan, cela dan dosa tertentu pada dirinya, maka suatu aib yang ada pada seseorang dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain untuk dapat belajar dan memperbaiki diri agar tidak melakukan hal serupa yang akan menimpa dirinya dan orang lain akibat perbuatannya tersebut.
Maka beruntung dan berbahagialah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri untuk diperbaikinya dari disibukkan dengan aibnya orang lain.
Illustrasi:
Kaligrafi karya Assiry Art, 2016

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top