Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Kudus, minggu 22 Juli 2018
Muhammad Assiry 

























Malam ini penuh bertabur keindahan. Bagaimana tidak. Jutaan keindahan itu bergelora dan berarak saling susul menyusul. Karya- karya Pelukis asli Kudus Senior yang tinggal di Depok ini membius seluruh pengunjung Pameran yang disupport oleh Dinas Pariwisata Kudus. Puluhan Seniman dan Pelukis Senior Kudus hampir seluruhnya hadir pada acara ini. Luar biasa.

Bahkan seumur-umur Bp.Dr.H.Musthofa selama 10 tahun menjabat sebagai Bupati yang tidak pernah membuka pameran lukisan tidak "dinyana-nyana" diakhir masa jabatannya ternyata gegap gempita ikut hadir sekaligus bersuka cita membuka Pameran Lukisan tersebut. Ini yang sungguh keren dan indah.

Tampak Kepala Dinas Pariwisata Kudus dan jajarannya yang tidak perlu saya sebut satu persatu juga hadir dalam acara bergengsi itu. Ibu Mutrikah Tikasalah satu pejabat Dinas Pariwisata Kudus bahkan mempersiapkan hampir seluruh prepare acara dan rela menyeduh kopi muria sendiri sebagai wujud cinta kepada seni kebudayaan di kudus yang masih tergopoh-gopoh menuju kesejatiannya dan jati dirinya.

Allah menilai bukan pada hasil usaha tetapi pada gerak langkah dalam pengembangan berkesenian di kudus dengan wujud usaha yang terus menerus. Dinas Pariwisata Kudus tentu tidak cukup cuma kita acungi jempol tetapi ribuan terimakasih tidak akan cukup untuk kita kadokan bersama.

Seni dan kebudayaan memang harus terus di ramut agar urup. Urup menjadi tema pada pameran lukisan ini begitu filosofis karena urup itu memberi cahaya artinya mencerahkan dan bertabur kemanfaatan bagi lingkungan sekitar yang masih gulita di berbagai sendi kehidupan. 
 
Meskipun gedung kesenian kudus "gelap" dan sepi bagai tak berpenghuni. Pameran Ar. Soedarto kali ini membawa obor besar untuk membuka gerbang dan menerangi bagi pengembangan seni dan kebudayaan kudus yang terlihat gontai dan bingung menentukan arah hendak kemana ia berjalan.

Mas Soedarto yang baru berusia 67 tahun ini berani "menjengguk" bahkan "menjedotkan" kesadaran kita masyarakat kudus khususnya bahwa ternyata kegoblokan dan kemalasan masih terus saja dijunjung tinggi dan disangka sebagai seni dan tradisi kudus yang berbudaya.
 
Padahal menurut Mas Soedarto siapapun harus terus berkarya dibidang apapun atau dalam kesempatan yang bagaimanapun. Seorang Seniman harus bisa berkarya dan membuktikan eksistensinya. Petani berkarya dengan menanam, Nelayan berkarya dengan melaut bahkan pejabat berkarya dengan melayani rakyat dan membuat kebijakan yang berpihak dan mensejahterakan wong cilik.

Tidak perlu menyalahkan siapapun. Mari bersama bersinergi untuk memakmurkan seni budaya kudus yang semakin terpinggirkan. Meskipun langkah kita ini dimulai kembali dari titik yang paling kecil. Tidak ada kata terlambat. Semoga kelak titik yang kecil itu menjelma menjadi mercusuar dunia. Bahwa kudus menjadi pusat studi dan peradaban dunia.


About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top