Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

PSKQ Modern , 29 April 2018



Gelar Nabi Ismail AS adalah dzabihullah. Sembelihan Allah. Meskipun pada akhirnya Allah menggantinya dengan seekor domba sebagai simbol untuk mengganti seluruh keikhlasan dan cinta yang dimiliki Ismail As, Hajar dan Ibrahim As.
Tetaplah merunduk, jangan meninggi meskipun ilmumu sudah setinggi langit. Teruslah bawa Allah karena dari Allah kita mendepatkan anugerah itu. Bukankah di atas langit masih ada langit. Tetap juga teduh dan sabar dalam mensikapi apapun dengan kepala dingin. Saya sangat mendukungmu atas prestasi dengan berkali - kali mengharumkan bangsa ini di kancah Internasional. Tetaplah tenang dan adem. Kata - kata adalah cerminan kepribadian kita. Banyak orang bijak bilang "untuk mengetahui karakter seseorang lihatlah apa yang diucapkan saat ia sedang marah".
Lha wong cuma dituduh Zuhair Azzara'i dan komunitas kaligrafi Arab sana kemudian saya share ko anda harus komen seperti itu. Ustaz Huda Purnawadi tetaplah tenang dan santun, apalagi sampai harus pakai taruhan penggal leher segala. Biarkan Ismail As yang bergelar Dzabihullah jangan saya apalagi engkau Ustaz Huda Purnawadi. Kalau Ibrahim hidup di jaman sekarang dengan menyiapkan pedang untuk menyembelih putranya, Ibrahim saya pastikan dikejar Polisi dengan tuduhan Perencanaan pembunuhan yang dilakukan kepada anaknya. Mending kita penggal kepala kambing untuk kita gulai dan bikin sate biar bisa makan bersama- sama. Yah itung - itung syukuran lah kan sudah juara 1 ketiga kali berturut- turut di Event Internasional. Prestasi Ustaz Huda Purnawadi itu sebenarnya menjadi pembuka gerbang kaligrafi bahwa kelak Indonesia akan menjadi mercucuarnya Kaligrafi dunia. Indonesia tidak bisa dianggap enteng.

Cara yang paling efisien untuk membuktikan segala tuduhan Zuhair Azzara'i dan Komunitas Kaligrafi di Timur Tengah itu cukup anda membuat tutorial video ulang mulai dari sketsa awal, proses mal hingga penggoresan dan finishing/tartish kemudian disiarkan secara live lewat yotube dan lainnya. Langkah itu lebih bijaksana daripada harus pusing memikirkan omongan dan tuduhan itu. Sama saja sampean membuang - buang energi.
Untuk mendapatkan gelar sarjana S1 saja kita dites dengan Sidang munaqasah dan disaksikan serta diuji kecakapan dan penguasaan materi melalui sebuah karya skripsi oleh beberapa Dosen. Lha prestasi Juara Kaligrafi tingkat dunia ini ngga main- main. Tentu konsekuensi dan tanggung jawab yang dipikul semakin besar dan berat. Lakukan saja pembuktian bahwa memang sampean ngga menjiplak atau foto copy dan semacamnya dengan usulan yang saya sebut tadi. Atau try out dan test langsung di tempat dengan Ustaz Muallimin Mual Wonk Demak yang beberapa bulan lalu ia bisa mengalahkanmu pada lomba kaligrafi tingkat Jawa Tengah secara on the sport. Apalagi saya juga melihat ada "signal" bahwa Ustaz Muallimin diganti oleh Ustaz Huda Purnawadi tanpa melewati proses seleksi dan try out ulang (bukti terlampir screen shoot).

Mengganti peserta yang sudah dinyatakan juara 1 dengan peserta lomba yang juara 2 tanpa tryout ulang dan test langsung itu bukan langkah yang baik dan bijaksana bahkan cenderung merugikan orang lain. Apalagi yang dilombakan adalah Al Quran. Terus apa yang kita dapat kalau kita hanya mengejar keindahan semu dan melupakan keindahan secara "huququ al adamiyyin".
Sikapi setiap kritik positif saya dengan cara yang bijak dan santun. Ini biar dijawab oleh para pembina Kaligrafi di Jateng kenapa hal ini bisa terjai di Jateng.  Seorang Pendekar sejati harus berani diadu, ditryout, ditest tanpa harus takut kalah. Siapapun yang terbukti menang dalam test atau try out langsung dengan mengikuti batas waktu dan juklak aturan lomba MTQ Nasional tentunya dia berhak mewakili Jateng pada event Nasional di Medan yang akan datang.

Sejak kapan yah saya memproklamirkan diri sebagai Presiden Kaligrafi Indonesia. Jangan berlebihan ini bisa mengakibatkan interpretasi yang berbeda. Ini bisa jadi fitnah karena saya tidak pernah ngomong demikian. Saya ini Assiry Presiden Kaligrafi di PSKQ Modern. Manhaj dan metode belajar kaligrafi yang saya pakai di PSKQ Modern itu  Manhaj (langgam) ASU Kepanjangannya Assiry Undaan. Salam yang saya pakai Salam Alif Ngaceng ( Ngaji Kalgrafi yang kenceng). Maklum saya kan kaligrafer abal- abal ngga punya sanad dan silsilah ilmu kaligrafi yang jelas.

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top