Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

assiry gombal mukiyo, 16 September 2014

Temen- temen sekalian, manusia itu kalau mau dipangkat-pangkatkan seperti anggota TNI atau Polri itu maka paling tidak akan ada tiga tingkatan mendasar yang menggambarkan kondisi kejiwaan manusia yang utuh.

1. Dikatakan sebagai insan/ human/ manusia egoistis. Manusia yang memiliki pangkat sebatas ini tidak lain mendasarkan segala perbuatannya hanya demi dirinya sendiri. Memandang dirinya sebatas manusia yang memiliki kebutuhan untuk makan,minum, seks (kenthu), jadi mau tidak mau segala hal harus dilakukan untuk mendapatkan hal itu.

2. Lebih satu lagi tingkatannya, Abdul. Manusia yang jenis ini telah menempatkan dirinya lebih dekat dengan Tuhan sehingga ia mendasarkan dirinya untuk beribadah pada Allah.

3. Dan inilah puncak tertinggi seorang manusia, yaitu sebagai kholifah di muka bumi. Disinilah manusia bisa betul-betul menggambarkan posisinya sebagai hamba Allah dan juga mandataris kasih sayangnya di muka bumi.

Bila suatu saat sampean melihat kucing yang ketakutan di atas sebuah pohon dan tak berani turun, seketika itu juga karena merasa kasihan kemudian engkau berusaha memanjat pohon eh tiba2 malah azan ashar berkumandang padahal sebenarnya ketika itu kamu sedang di penghujung waktu dluhur dan kamu sebenarnya juga belum mengerjakan sholat dluhur karena disebabkan suatu masalah. Mana yang lebih engkau pentingkan, menyelematkan sang kucing atau meninggalkannya demi mengerjakan sholat yang bahkan belum engkau kerjakan??

Mereka yang berada di posisi abid akan segera meninggalkan kucing dan bergegas menuju masjid. Sedangkan mereka yang menempatkan dirinya sebagai kholifah di muka bumi, maka sebaliknya, ia akan tetap ke atas pohon dan perlahan menurunkan sang kucing ke bawah.

Rasullah pernah menyampaikan pada kita bahwa salah satu tujuan beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak kita para umatnya ini. Dengan kata lain, akhlak merupakan hal esensial yang seharusnya dimiliki oleh siapapun bahkan tanpa memandang status agamanya sekalipun. Masyarakat arab ketika itu disebut sebagai masyarakat jahiliah lebih disebabkan oleh karena bodohnya perangai mereka dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Orang tua mana yang gila dan melakukan hal bodoh dengan mengubur bayi perempuannya hidup2 hanya karena sebuah anggapan kalau qnak perempuan tersebut akan mendatangkan kejelekan dalam hidup mereka.

Betapa posisi abid/ suka beribadah bukanlah sesuatu yang paripurna, karena apalah arti shalat bila kita tidak memberikan kedamaian pada sesama? Bila kita tidak menunjukkan kebaikan akhlak kita pada sesama apa gunanya kita membaca Subbahanallah dalam ruku’ sholat kita setiap hari.

Apalah arti haji? apa pula arti puasa? Bila semuanya tidak memberikan dampak implikasi yang positif untuk lingkungan disekitar kita.

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top