Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Assiry gombal mukiyo, 05 April 2016

























Seorang bijak pernah menyatakan, “terkadang, Sang Juara atas sebuah event perlombaan, tidak perlu memegang piala”. Jadi sang juara sesunggunya tidaklah pernah ditentukan oleh hitung-hitungan berada di urutan berapa dia, seberapa cepat catatan waktunya, seberapa lama dia bisa bertahan, seberapa ukuran bagus dan indahnya kampungnya. Semuanya menjadi subyektif dan relatif.

Seperti menilai kecantikan perempuan misalnya. Mungkin antara si A dan Si B akan berbeda dalam menentukan standar penilaiannya. Si A menganggap perempuan yang cantik itu pada fisiknya misalnya jika payudaranya besar dan pantatnya lebar, sementara Si B menilainya kecantikan itu terletak kepada inner beautynya, pada baik perilakunya, kecerdasan dan atau melihat kepada intelektualitasnya.
 
Inilah realita lomba antar Kampung Desa Undaan Lor yang berĺangsung beberapa waktu yang lalu. Sesungguhnya yang disebut sang juara, atau eksistensi sebuah kemenangan, hakekatnya tidak berlaku begitu sebuah pertandingan berakhir dan tanda kejuaraan disematkan kepada sang juara.

Sebuah tim ataupun seorang atlet yang yang dapat memenangkan sebuah perlombaan ataupun kejuaraan, sehingga sesudah kejuaraan ia dijunjung sebagai sang juara. Akan tetapi, yang selalu perlu kita ingat, ketika sebuah perlombaan ataupun kejuaraan dilangsungkan kembali, maka tidak seorangpun bisa memastikan bahwa sang juara akan pasti menang kembali.
 
Kalau di piala dunia ketika sepuluh menit sesudah Spanyol menjadi juara lantas mereka dipertandingkan lagi, maka tak ada jaminan bahwa Spanyol akan menang.
 
Jadi, sesungguhnya juara itu tidak ada, coba anda pikirkan, apa logika kualitatifnya kalau kesebelasan produser total football Belanda tidak bisa ikut piala dunia sementara Arab Saudi saja bisa masuk meskipun dihajar Jerman pada Piala Dunia 2002, dengan gol seperti pertandingan sepak bola kampung. Terus kesebelasan Italia pada Piala Dunia 2010? Betapa tidak konsistennya kekuatan dan kekuasan dalam kehidupan manusia di muka bumi ini.

Tatkala menang, sadarilah kalahmu. Di waktu jaya, renungilah keterpurukanmu. Pada saat engkau hebat, ingat-ingatlah kemungkinan konyolmu. Seorang yang memiliki cinta sejati, tidak akan pernah meninggalkan sesuatu yang dicintainya sendirian, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Ketika yang dicintainya melakukan sebuah kesalahan, dia akan tetap berada disampingnya, untuk mengingatkan dan menuntunnya kembali ke “Jalan Yang Benar”, bukan malah mencaci dan meninggalkannya dalam kesalahan.

Sebuah perlombaan apapun dinyatakan sukses jika menjunjung sportivitas perlombaan. Sportivitas itu bahasa moral atau akhlaknya adalah kejujuran: kalau 5 jangan dibilang 3, kalau uang proyek 1 milyar jangan sampai disampaikan yang bersangkutan tinggal 300 juta, sama dengan kalau motret kenyataan wanita jangan hanya pinggul, susu dan bokongnya, tapi juga isi hatinya, pikiran dan kepribadiannya ini yang mungkin terjadi dalam perlombaan -perlombaan tertentu. Sehingga hasil dari kejuaraan tersebut menjadi centang -perenang dan justru menjadi preseden buruk karena ditangani oleh manajemen perlombaan yang juga buruk.

Sportivitas inilah yang saya lihat kurang terlihat, mulai dari team penilai, Kriteria penilaian yang ambigu, manajemen perlombaan, dan sebagainya yang perlu banyak pembenahan.
 
Ada dusta akut yang menyebabkan antar warga kampung menjadi tegang, menjadi saling tuduh, menyalahkan dan tidak percaya satu sama lain, jika kondisi sudah seperti ini, maka untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, saya mengibarkan bendera putih karena perlombaan yang seyogyanya menjadi ajang silaturrahim dan solidaritas pembangunan menjadi ajang untuk 'nangkring' karena kepentingan tertentu.

Kalau kampung kita kalah, atau terjadi hal buruk terhadap penilaian lomba Desa semoga kita tetap sportif untuk tidak menyalahkan siapapun. Toh sebenarnya Kampung kitalah yang Juara Sejati. Antar Warga yang saling asah asih dan asuh, Gotong -royong seluruh elemen warga kompak siang dan malam bahkan hampir tidak perlu ada absen semuanya berjalan beriringan padahal ndak digaji seperti kampung lainnya misalnya ngecat bersama, menata pagar, halaman, mendekorasi gapura, mengakomodir perlengkapan administrasi kampung dan lainnya yang terus berjalan baik dan terus -menerus entah ada perlombaan atau tidak. Inilah sesungguhnya kemenangan kampung kita yang kemenangan itu tidak pernah didapatkan oleh kampung manapun.

Pihak -pihak dari kampung lainnya juga yang "kalah" pun tidak boleh menyalahkan pihak lain dengan berbagai alasan. Dimasa kanak-kanak saya suka berkelahi dan kalau kalah saya bikin alasan: "Lha wonge nggowo watu gede” (soalnya dia bawa batu). Di saat lain saya juga bilang: “ wonge awakke gedhe duwur"…” (soalnya dia lebih besar dan tinggi dari saya). Kalau sudah tak punya alasan, masih saja saya bisa bikin alasan: “Makanya aku kalaaah…”

Mental seperti itu ditertawakan oleh petinju kelas berat, yang menjadi juara dunia tahun 1974 George Foreman setelah menjungkalkan Joe Frazier lima kali di ronde ke-5. Empat tahun kemudian dia dikalahkan KO oleh Muhammad Ali yang jauh lebih lemah dan tua dibanding Foreman. Dua tahun dia frustrasi dan kariernya berhenti setelah kalah lagi dari petinju yang lebih lemah dari Ali. Ketika Foreman diwawancarai bersama Ali, dia bilang: “Dua tahun saya sibuk menyalahkan penonton, menyalahkan Ali dengan rope a dope-nya, tapi kemudian saya sadar bahwa saya sendirilah yang salah sehingga kalah”.

Teruslah semangat para warga di Kampungku. Kekalahan dalam ajang perlombaan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan untuk terus membangun, berbakti kepada Allah atas seluruh karunia dan nikmatNya dengan menganugerahkan kepada kita sebuah kampung halaman yang nyaman sebagai tempat dimana kita lahir dan dibesarkan. Secara angka boleh saja kita kalah. Tapi sesungguhnya kampung kitalah pemenangnya. Kemenangan kita tidak pada hitungan angka -angka dan kalkulasi subyektif. Kemenangan kita itu terletak pada kobaran semangat dan cinta yang begitu besar, sehingga hitungan matematika dan apapun itu tidak bisa mengukur kadar cinta kita terhadap masa depan Kampung kita yang damai, indah dan asri.
 
Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda "Hubbul wathon minal iman" Bahwa kadar bobot keimanan kita ditentukan oleh seberapa besar perjuangan dan pengorbanan yang sudah kita toreh sebagai bukti cinta kita terhadap kampung halaman.

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top