Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Assiry gombal mukiyo, 1 November 2014


Komunikasi itu gampang-gampang sulit, atau sulit-sulit gampang. Maksudnya, tampaknya gampang tapi ternyata sulit, tampaknya sulit tapi lha kok gampang. Itu tergantung macam-macam faktor: bahasa yang digunakan, situasi, dan konteks komunikasi, latar belakang komunikasi, latar belakang komunikator dan komunikan. Bahkan bergantung lebih banyak hal lagi: bergantung canthelan, senggot, dan lain sebagainya.
  Nabi Sulaiman bisa berkomunikasi dengan segala macam makhluk. Artinya beliau kenal betul hakikat gerak daun-daun, gelagat para jin, di arah mana semut mencium sesuatu, dan apa saja. Dengan kata lain Nabi Sulaiman itu ilmuwan komplet, beliau mengerti hakikat dan syariat segala macam makhluk. Sebagaimana para astronom paham watak dan perilaku bintang-bintang, para dokter hewan tahu sifat dan kelakuan binatang, para sosiolog mafhum apa saja yang ‘diucapkan’ oleh gerak masyarakat dan sejarah, para kiai, dan psikolog tahu persis ‘bunyi suara’, sorot mata Anda, atau kerut-merut kulit wajah Anda. Atau seorang dokter bisa berkomunikasi dengan penderitaan tubuh Anda cukup dengan menatap wajah, atau menyentuh kulit tangan atau kening Anda. Para ilmuwan itu kalau digabung jadi satu, lengkap dengan segala makrifat dan kekayaan harta-bendanya: akan menjadi Nabi Sulaiman minus kenabian resminya.

Tapi bagi orang-orang awam seperti saya komunikasi itu bisa merupakan masalah yang ruwet. Saya mungkin terbiasa berkomunikasi dengan pengemis atau gelandangan, tapi belum tentu ia bisa berdialog dengan seorang bupati, dengan ahli paranormal, juga pasti akan serba salah kalau berkomunikasi dengan wewe gombel, thok-thok kerot, atau seekor kambing dan memahámi betul suara "ngembekny".

Memang komunikasi itu kelihatannya sepele, tapi kalau gagal, bisa fatal akibatnya. Seorang penumpang kereta api yang gagap suaranya bertanya kepada penumpang di sebelahnya: “Mas, jam be beb berrapa sek sek sekkaaarraaarrr .....ang?”—Ia langsung diajak berkelahi oleh orang itu, karena ternyata ia juga gagap.

Anda pasti sudah hapal anekdot itu. juga ketika seseorang yang berdiri berdesak-desakan di bus terinjak kakinya oleh seseorang di sebelahnya. Sebelum memprotes, ia merasa perlu dulu mengadakan penelitian terhadap aspek-aspek sosiologis historis dari orang yang hendak diajaknya berkomunikasi.

“Mas, Mas, saya boleh tanya?” ia bertanya sangat halus.
“Silakan…,” jawab si penginjak dengan heran.
“Mas ini putranya polisi”
“O, bukan, bukan…”
“Punya paman atau sedulur yang polisi?”
“Ndak…ndak…”
“Punya tetangga atau kenalan seorang polisi?”

Dan ketika orang itu menjawab ‘tidak’ juga, maka suara kawan kita itu mendadak agak keras: “Kalau begitu jangan injak kaki saya ! “

Pengenalan konteks, kerangka dialog, bahkan latar belakang sosiologis historis, sangat penting dalam komunikasi. Kalau tidak, seseorang bisa babak belur. Paling tidak, yang terjadi kemudian bukan dialog, melainkan monolog.

Dulu waktu saya remaja, sebagai anak ke 6 dari 9 bersaudara saya sering disuruh 2 atau sekadar beli sesuatu ke Warung oleh salah satu kakak tertua.

Suatu hari kakak saya memanggil dan berkata: “ Assiry tolong beli Anu di warung si anu, kalo beli anunya itu mbok dibuka dulu terus dilihat anunya biar pas!".

“Ya, mbak ,” jawabku , “nanti aku lihat anunya si anu itu biar pas, tenang aja!” kataku meyakinkan.
Tau -tau saya lupa melihat dan memperhatikan apa yang dipesankan kakak saya tadi. Akhirnya kakak saya marah besar.

Sambil berkacak pinggang, Kakak saya teriak " aku kan sudah bilang kalau beli anu itu mbok ya dibuka dan dilihat dulu anunyaaaaa, biar ngga salah anunya!,...Goblog ...glodakkkk.......!! Sambil membanting kursi.

Dengan gemeteran aku jawab "ya mbak tadi aku lupa lihat anunya, habis aku ngga enak kalo aku lihat-lihat anunya repot pake buka -buka anu segala takut dia marah anunya dilihat -lihat, eh malak kebesaran ukuran anunya.

Yang saya bicarakan dengan kakak saya itu adalah soal "membeli sandal". Dia ingin saya membuka bungkus plastiknya, terus dilihat ukurannya agar pas. Anda jangan berfikiran ngeres dulu dung!.

Ada banyak bahasa komunikasi yang lain: pandangan mata, mimik wajah, gerak, kode-kode, atau ‘komunikasi sunyi’. Dalam metode-metode latihan teater ada dikenal verbal-communication, ada verbal communication, serta ada silent cornmunication. Ada komunikasi verbal, ada yang fisikal, serta yang sunyi.

Dalam dimensi-dimensi kehidupan tertentu—tanyakan kepada pakar kasepuhan, kaum sufi, ahli kebatinan, orang yang bercinta, dan seterusnya—komunikasi paling efektif justru dengan menggunakan ‘bahasa’ diam. Kalau istri Anda purik, ngambeg, gulung 2 di lantai: ketahuilah bahwa ia justru sedang menggunakan bahasa yang paling efektif untuk menyatakan perasaannya kepada Anda. Kalau dengan kata-kata, malah perasaan itu tak sampai.

Dulu teman saya pernah bercerita tentang seorang temannya. teman yang katanya Bahasa Arab dan Inggrisnya terbatas pada kata Na'am, la, ‘yes’, ‘no’, ‘what’, atau “yes no what-what” (ya ngga apa-apa). Tapi dialah yang paling berhasil komunikatif dengan orang 2 arab dan sempat dapat kenalan cewe iran yang imut, berkat kemampuannya menggunakan gerak tubuh, mimik muka, serta inisiatif-inisiatif komunikasi yang lain meskipun tak menggunakan kata-kata.

Di tengah pergaulan sehari-hari, ada teman yang bisa komunikatif di obrolan, tapi gagap di podium. Ada yang fasih di ruang ceramah, tapi glagepen paugeran. Ada yang maha orator di panggung, tapi ndlahom dan mlongo atau malah ngompol di depan cewe. Ada yang pintarnya ngobrol dengan anak kecil, ada yang dengan orang ‘bawah’, ada yang bisa komunikasi nyogok uang untuk keperluan tertentu, pokoknya macam-macam.

Tapi yang paling inti dan substansial dalam peristiwa komunikasi sesungguhnya bukan ‘bagaimana bahasa yang digunakan’, melainkan apakah kedua belah pihak terbuka atau tidak untuk berkomunikasi. Kalau seseorang terbuka untuk berdialog, maka bahasa gampang dicari. Tapi kalau ia tertutup, maka pakai bahasa apa pun akan salah kedaden.

Ketertutupan komunikasi dalam masyarakat kita biasanya disebabkan oleh penyakit-penyakit seperti feodalisme, hirarkisme, atau segala macam posisi perhubungan sosial yang mendorong sikap apriori.
Contoh feodalisme komunikasi misalnya ketika seorang bapak hanya sanggup untuk ‘mengomongi’ dan tak sanggup ‘diomongi’. Kalau dia mengomongi, segalanya ‘betul’. Kalau dia ‘diomongi’, segalanya ‘salah’.
Juga dalam kondisi hirarkisme tata sosial misalnya yang terjadi di tubuh birokrasi, atau bahkan ketika ‘rasa birokrasi’ melebar keluar konteks formal birokrasi itu sendiri. Seorang atasan tak bisa diomongi, ia hanya punya ‘kewajiban’ untuk mengomongi. Kondisi seperti itu membuat orang menjadiantikritik, tak bisa mendengarkan apa pun yang dia anggap mengkritiknya atau menyalahkannya. Saking tak biasanya mendengarkan, bahkan terkadang ia tak tahu bahwa sesungguhnya ia dipuji. Ia terbiasa memerintah, terbiasa ‘berkuasa’ dan ‘paling benar’, sehingga kalimat pujian ia takutkan sebagai perongrong kekuasaan dan kebenaran dia.

Kata orang-orang pintar, komunikasi itu mesti rasional dan kontekstual, juga obyektif. Kalau subyektif, apa pun saja yang kita katakan akan dianggap salah.

Mungkin karena pusing oleh beberapa kasus diskomunikasi, akhir-akhir ini saya sering nglindur dan sambat: “Owalah!!!!!!!!!!!!!!?! mbok ya kalau anu itu dibuka dan dilihat dulu anunya, supaya ndak salah anu.

About Elsya Vera Indraswari

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top