Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Assiry gombal mukiyo, 21 November 2014

Seorang Guru salah satu pesantren Kaligrafi bertanya kepada salah satu tamu yang bershilaturrahim di Gubug kecilnya. Kebetulan tamu tersebut adalah murid salah satu pesantren Kaligrafi ternama di kota antahbrantah. Sebut saja namanya Shomad.
  Sang guru bertanya : “ Bang Shomad....Apakah anda punya tetangga?" Kalau punya, tetanggamu itu punya istri apa nda?"

Agak sedikit bingung dengan arah pertanyaan Sang Guru, Shomad menjawab sekenanya. "Ya saya punya dung tetangga dan juga tau lah sedikit tentang istrinya itu Ustaz". kata Shomad dengan tegas.
Anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu? Jari-jari kakinya lima atau enam? Mulus, panuan atau ada bekas korengnya ?”

Sang guru bertanya lagi. Shomad mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah pembicaraan Sang Guru. Shomad menjawab : “Tidak pernah memperhatikan Ustaz". Sang Guru ndak peduli. Dia tanya lagi : “Body-nya sexy enggak?”

Shomad tak lagi bisa menahan tawa. Geli deh. Apalagi memang karena ia yang benar-benar tidak faham arah pembicaraan sang Guru itu. Sang Guru tersenyum tipis lalu berujar “Jadi ya begitu. Jari kakinya
lima atau enam. Bodynya sexy atau tidak bukan urusan kita,kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja”.

“Kenapa Ustaz" Shomad mlongo dan bertanya, penasaran.
“Ya apa urusan kita ? Nah, Metode belajar dan tata aturan pesantren Kaligrafi atau sekolah kaligrafi orang lain itu ya ibarat istri tetanggamu. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun.

Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati saja”.

Sang Guru melanjutkan serius : “ Terkadang kita mengedepankan egomania kita...coba perhatikan, bagi santri Pesantren kaligrafi Al Dawwat misalnya , pesantrennya itu pasti yang terbaik menurutnya dan itulah sebabnya ia "nyantri" di Al Dawwat. Kalau diaberanggapan atau meyakini bahwa ada pesantren Kaligrafi selain Ad Dawwat yang bagus, ngapain dia jadi santri di Ad Dawwat tidak nyantri saja di Pesantren Kaligrafi Islam (PKI) misalnya?

Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan perdebatan atau pertengkaran dengan menjustice sana sini.
Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai belati dan tidak pakai dokter, umpamanya.

Sang Guru terus berkata : “Itu prinsip kita dalam memandang berbagai Sekolah dan Pesantren Kaligrafi yang ada. Sehingga yang terjadi adalah saling menghargai, mengayomi dan tidak menyinggung. Toh tujuannya sama yakni mencetak kader -kader yang baik dan berkualitas cuma jalannya yang berbeda -beda, baik metode dan tekniknya. Mau memakai metode gulung -gulung, metode njiplak apa ngga, mau menjadikan figur Master Turki sebagai acuan apa tidak, mau guru -guru yang ngajar kaligrafi dapat syahadah kaligrafi dari Master Bellaid Hamidi atau ngga itu tidak jadi masalah.

Shomad manggut -manggut dan terus mendengarkan arahan Sang guru tersebut. Dia merasa selama ini dia telah khilaf dengan mendangkali pemikiran dan tabiatnya yang mengkotak -kotakkan bahkan cenderung menilai dan melemahkan yang lainnya.

“Jadi ndak usah meributkan metode pembelajaran Pesantren Kaligrafi lain, Itu sama aja anda ngajak gelut tetangga anda. Mana ada orang yang mau isterinya dibahas dan diomongin tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga itu bisa sebuah pesantren Kaligrafi, bisa berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, organisasi, perserikatan atau perkumpulan penjual gorengan dan pengamen jalanan atau apapun itu, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor konsep perbedaan masing -masing".Terang Sang Guru.

Tiba -tiba saja Shomad menjerit histeris dan menangis tersedu -sedu, mendengarkan setiap kata bijak, yang begitu renyah keluar dari bibir sang Guru.

Sang Guru dengan lembut menyeka dan menenangkan Shomad sambil menepuk -nepuk punggungnya dan berkata:“Kerjasama Pesantren atau sanggar Kaligrafi itu dilakukan bisa dengan mengadakan pembinaan kaligrafi bersama,mengadakan Seminar dan bedah ilmu tentang Kaligrafi juga bisa diadakan semacam kepanitiaan lomba secara bersama -sama misalnya yang seluruhnya bisa diambil dari kepanitiaan gabungan dari seluruh pesantren dan Sanggar Kaligrafi yang ada di indonesia. Untuk memperbaiki pagar keutuhan akan pengembangan Kaligrafi di Nusantara yang tercinta dibutuhkan saling asah asih dan asuh. Untuk pengembangan Kaligrafi yang dibutuhkan bukan persaingan tapi "fastabiqu al khairaat".

Dialog Sang Guru dan Shomad, tiba -tiba terhenti ketika Terdengar suara mesra menyentuh kalbu, seorang santri Sang Guru yang menggores kaligrafi dengan bambu jelek diatas secarik kertas usang dengan memekikkan suara" kreek kreeeerk kreeeekkkkkkkkkkkk".

About Elsya Vera Indraswari

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top