Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Muhammad Assiry,11Oktober 2018


Saya sangat memaklumi dewan Juri sudah banyak yang sepuh alias maaf "udhur", jadi perlu memakai kaca pembesar, meskipun tidak harus sebesar kaca mata kuda.
Saya sedikit mengkritik hal -hal yang luput meskipun ini adalah urusan yang sangat remeh temeh. Pertanyaan saya sejak kapan kesalahan karena kekurangan tanda baca menjadi sesuatu yang terampuni, seperti pada karya ini karena kurangnya penulisan fathah pada huruf alif kata arrahmaanu.
Dari pengalaman saya puluhan tahun ikut MTQ yang berkaitan dengan kurangnya penulisan atau kelebihan tanda baca misal kurang titik atau kelebihan titik, kurang sakkal atau juga kelebihan dan semacamnya menjadi sesuatu yang teramat fatal kecuali memang seluruh peserta melakukan kesalahan yang sama semua baru ada kebijakan yang tentu tidak merugikan peserta.


Lha pada contoh kasus ini, karya tersebut ketinggalan fathah lha kok bisa dimasukkan final. Hadeuh Alamaaaak. Apalagi saya yakin banyak karya lainnya yang lebih mulus artinya tanpa cacat seperti yang saya sebut tadi dan lebih layak untuk dimasukkan kategori final. Sangat gegabah sekali Dewan Juri kita ini, mungkin kurang ngopi medan yah sueger dan bikin tidak ngantuk dalam melakukan penjurian.
Ini menjadi sesuatu yang tentu tidak membuat nyaman banyak fihak. Kecermatan dan ketelitian adalah keniscayaan bagi seorang penulis kaligrafi apalagi ini yang ditulis adalah Al Quran tidak boleh ada kesalah atau pengurangan tanda baca sekecil apapun.
Semua orang memang punya khilaf. Tetapi dalam ajang perlombaan apapun Juri yang melakukan kesalahan dalam menentukan kebijakan menjadi sesuatu yang memalukan. Mereka disumpah untuk menilai seakurat dan seproporsional mungkin.
Yah semoga hal ini tidak terulang kembali dan menjadi pelajaran bagi peserta maupun Juri biar tidak lagi terjadi pada MTQ Kaligrafi Nasional yang akan datang. Saya meminta kepada semua fihak untuk legowo. Apalagi jargon Juri sudah kita sepakati bersama meskipun sepakat atau tidak semuanya dituntut harus bisa sepakat "keputusan Juri tidak bisa diganggu gugat". Bagi yang tidak masuk final anggap saja mereka bukannya kalah tetapi mengalah untuk kemenangan dan kebahagiaan peserta lain. Heheehe.
Bukankah mengalah bukan berati kalah. Memberikan peluang teman, Saudara, atau kepada siapapun untuk menang dalam perhelatan akbar ini juga adalah terpuji. Toh mereka yang menang atau masuk final adalah pacar, teman, guru atau bahkan senior kita sendiri.

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top