Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Muhammad Assiry, 13 November 2017


Perbedaan menjadi sebuah harmoni yang indah di kotaku. Aku terdidik dengan tradisi budaya Kudus yang beragam dengan berbagai agama dan keyakinan. Tuhan tidak melihat rupa dan fisikmu tetapi sesungguhnya Ia melihat perilaku dan kepedulian sosialmu.

Tidak sedikit diantara kita yang gerah bahkan geram melihat perbedaan. Bukankah perbedaan pola berfikir, selera, pendapat dalam hal apapun adalah sebuah keindahan. Lihatlah warna pelangi yang berpadu alangkah indahnya. Setiap warna tidak ingin menonjol tetapi bergandengan dan saling melengkapi.

Aku sering kali berbeda pendapat bahkan dengan kawan- kawan Seniman Kaligrafi. Misalnya kenapa kita tidak bangga dan terus belajar Seni Kaligrafi kontemporer produk budaya lokal yang pernah berjaya melalui gaya Sadali Garut, gaya AD.Pirous Bandung, gaya Syaifulli Jogya, gaya Said Akram Aceh dan lainnya, juga perlu dilestarikan disamping kita juga belajar dan fokus mengasah dan mengasuh kaligrafi klasik tradisional sebagai akar puncaknya peradaban kaligrafi sebagai penghormatan terhadap para pendahulu Kaligrafer Masyhur Mustafa Raqim hingga Sammi Affandy dan Syauqi Affandi Turki.

Tetapi karena pendapatku itu kemudian ada yang menyuruhku meminta maaf di medsos. Pertanyaannya Apa yang salah? Setahuku berbeda pendapat terhadap apapun bukan sebuah kesalahan. Ya, aku tetap minta maaf tetapi bukan berarti karena aku salah tetapi karena aku memiliki sudut dan jarak pandang dalam berpendapat tentang kaligrafi klasik dan kekayaan khasanah kaligrafi kontemporer khas indonesia yang harus tetap lestari.

Jangan alergi dengan perbedaan. Bahkan terhadap selera makan dan tentang memilih pasangan ideal apakah yang kurus apa yang montok, yang ngentutan apa tidak itu saja kita tidak akan pernah sama satu dengan lainnya. Ada karakter dan latar belakang riwayat keluarga, sosial dan budaya yang kadang mempengaruhi terhadap setiap perbedaan itu bisa muncul ke permukaan. Misalnya aku dididik Bapakku dengan cara yang tegas dan tidak tedeng aling - aling. Kalau tidak suka atau kurang sependapat terhadap sesuatu aku sampaikan langsung. Nah mungkin ini berbeda dengan anda misalnya yang hanya berani mempergunjingkan di belakang sebuah topik atau persoalan tertentu.

Bahkan cara kita menyikapi setiap persoalan saja jelas kita beda. Jika hobbymu bersenggama dengan Istrimu mengunakan gaya doggy style aku justru lebih suka sambil split atau kayang. Ini kan jelas beda. Aku orangnya ceplas- ceplos kalau kentut suaranya meledak- ledak sedangkan anda mungkin lebih suka diam dan kentutnya tanpa suara tetapi baunya kemana- mana.

Budayakan menghargai setiap perbedaan dalam hal apapun. Kalau aku suka kaligrafi kontemporer yang klasik sedangkan anda kaligrafi kontemporer yaug tidak bisa lepas dari unsur alam seperti pohon, air mengalir, gunung dan semacamnya. Toh aku juga asyik saja, karena itu pilihan anda tentu aku sangat menjunjung tinggi pada sebuah kreatifitas tertentu. Bahkan ada yang berpendapat bahwa belajar kaligrafi harus bersanad sedangkan aku justru berkebalikannya saja aku tetap menghormati. Menurutku belajar kaligrafi boleh belajar kepada ide gila bahkan berguru dengan desir angin pun sah - sah saja. Jadi pas anda berlibur di gunung Muria, tiba - tiba terinspirasi oleh sepoi angin senja hingga akhirnya terbentuklah sebuah karya kaligrafi nan indah di sana.

Ada temanku bertaya " Sampean belajar kaligrafi sanadnya dari mana?" Aku ndak punya sanad kaligrafi, mungkin sanadku dari "Iblis gendeng".

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top