Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Muhammad Assiry , 3 september 2017




















 
Hari ini Santri PSKQ Modern mengikuti wisata Religi dengan berziarah ke makam Sunan Kalijaga, Raden patah & ke Makam Mbah syeh Muzakkir di tengah laut.

Bicara tentang Wali Songo tentu tak lepas dari Demak yang dijuluki Kota Wali. Selain masjid, di Demak juga ada museum dengan koleksi benda peninggalan Wali Songo.

Wisata religi ke Masjid Agung Demak di Demak, Jawa Tengah akan semakin lengkap dengan mengunjungi museumnya. Museum Masjid Agung Demak terletak persis di sebelah masjid yang dibangun para Wali Songo itu.

Berbagai koleksi bersejarah terkait Masjid Agung Demak serta Kesultanan Demak ada dalam museum. Bangunannya memang tidak terlalu besar, hanya sekitar 4x4 meter. Tapi cukup untuk memajang aneka koleksi penting, seperti benda-benda peninggalan Wali Songo yang bisa dibilang koleksi utama dalam museum.

Peninggalan Wali Songo yang begitu populer di museum adalah bagian-bagian dari soko guru yang asli. Soko guru sendiri merupakan tiang utama Masjid Agung Demak dari empat Wali Songo, yaitu Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga dengan soko tatalnya.

Untuk soko tatal buatan Sunan Kalijaga, maksudnya adalah serpihan kayu yang disambung menjadi satu. Kumpulan kayu yang disusun menjadi sebuah tiang kokoh ini disebut juga sebagai lambang persatuan.

Nah, keempat soko guru termasuk soko tatal yang menyangga masjid ketika pertama kali didirikan mengalami keropos dan rapuh setelah bertahun-tahun. Bagian yang mulai rapuh dipotong dan digantikan dengan yang baru, di mana tiang yang baru itu bisa dilihat menyangga masjid di bagian tengahnya.

Sedangkan potongannya yang rapuh itulah yang diletakkan di museum. Ada beberapa potongan panjang dan pendek yang dipajang di tengah museum dengan pagar kaca di sekelilingnya. Salah satunya potongan soko guru Sunan Gunung Jati dengan panjang sekitar 100 cm.

Koleksi lainnya yang tak kalah menarik adalah pintu bledeg atau pintu petir yang asli buatan Ki Ageng Selo. Dulu, pintu bledeg menjadi salah satu pintu di Masjid Agung Demak.

Dinamakan beledeg karena konon pembuat pintu itu bisa menangkal petir, dan pintu kayu jati ini pun dapat berfungsi sebagai penangkal petir. Sama seperti soko guru, pintu bledeg juga diberi pelindung kaca di bagian depannya.

Selain itu Santri PSKQ Modern dan Wisatawan juga bisa melihat koleksi lain di museum, seperti bedug Wali abad XV, kentongan, gentong Putri Campa, foto-foto yang menggambarkan sejarah pembangunan masjid dan masih banyak lagi. Koleksi museum semua masih tampak terawat.

Kalau tertarik berkunjung, silakan datang setiap hari Sabtu sampai Kamis sekitar pukul 08.00-16.00 WIB. Traveler yang ingin memotret koleksinya sebaiknya izin dulu dengan petugas museum. Karena memang tak boleh sembarangan memotret ataupun merekam di dalam museum.

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top