Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Assiry gombal mukiyo, 1 September 2016


Beberapa hari terakhir, jagat media sosial tertawa lepas sebab kehadiran Mukidi; tokoh dengan cerita gokil yang mengocok perut. Cerita tentang Mukidi tersebar di berbagai media sosial, bahkan jadi bahan perbincangan pula di warung kopi.

Satu hal yang patut dicatat atas kehadiran Mukidi akhir-akhir ini adalah kenikmatan tertawa di tengah berita-berita ‘serius’ yang dapat mengernyitkan dahi. Mukidi adalah ikon kegembiraan, keceriaan, lepas dan merdeka dari sumpek dan ruwetnya hidup. Ia bisa dibilang terlahir kembali, mengisi hari-hari masyarakat kita.

Beberapa waktu lalu saya sempat membuat Surat Cinta kepada Dewan Hakim Kaligrafi Nasional. Banyak sekali kelucuan dan bahkan saya sering senyum -senyum sendirian ketika duduk, jalan atau ketika sedang manyun sendiri.

Saya semakin sering senyum sendiri setelah itu. Meskipun saya berdoa semoga saya tetap waras dan ngga berubah menjadi gila lalu mondar- mandir, gondal -gandul ngga pakai celana. Ini kan membahayakan stabilitas dan kewibawaan saya.

Singkat cerita ada salah satu Dewan Hakim Kaligrafi yang saya tanya melalui inboks fb, sebut saja Namanya Bp.Mukidi. Terjadilah dialog ringan antara saya dengan Bp.Mukidi hingga saya terpingkal -pingkal sendiri, "ngakak iblis". Saya nukil sedikit penggalan Dialog saya dan Bp.Mukidi yang menurut saya sangat lucu.

Saya: "Mohon maaf Bapak kan Dewan Hakim Lomba Kaligrafi Nasional? Masak membedakan mana kaidah diwani yang boleh dipanjangkan atau tidak Bapak tidak tahu, sehingga tidak terbaca huruf sin atau syin".

Bp.Mukidi: "Wah kalau soal itu saya yah kurang tahu, saya cuma ditunjuk dan diusulkan PemProp dan LPTQ dari daerah kami untuk menjadi salah satu Hakim Kaligrafi Nasional. Yah sedikit pengalaman lah pernah bikin dekorasi pengajian dan orang nikahan dengan kaligrafi".

Saya: Saya ngakakkk dan menahan geli berasa pengen pipis dicelana. Kemudian bertanya kembali "Terus bagaimana dasar atau acuan Bapak untuk menilai lomba kaligrafi Nasional tersebut, Standar penilaian Bapak dengan standar Nasional atau Internasional?"

Bp. Mukidi: Mohon Maaf Ustaz, saya sendiri dinas di KUA. Standar Nasional apa internasional saya kurang tahu itu. Pokoknya yang penting saya ikut menilai karena menjalankan tugas dinas. Itu saja!".
Sepertinya Bp. Mukidi sedikit sewot.

Saya: Senyum saya makin lebar, " Haduh pakk...bagaima mungkin Bapak yang setiap hari tugasnya menikahkan orang, sekarang tiba tiba disuruh menilai dan mengawinkan huruf kaligrafi. Bapak memang lucu, ngga tau kaligrafi tapi mauu yah jadi hakim kaligrafi". Sambil mengelus dada dan anuh saya....heehee.

Begitu lucunya Indonesia, Amil tukang Nikahkan orang di KUA tetapi ditugasi Dinas untuk mengawinkan dan Juri Kaligrafi tingkat Nasional. Sungguh besar sekali anugerah yang Allah telah berikan kepada Bp.Mukidi.

Meskipun kadang kelucuan yang terjadi adalah ketika bertentangan dengan nurani. Ini yang seringkali mengiris hati saya sambil ingin sesekali split karena saya ngga bisa goyang patah -patah meskipun sepatah apapun hati saya.

Saya setuju dan ikut mendukung jika kelucuan itu berkaitan dengan polah dan tingkah bangsa kita yang terus tegar dan perkasa menghadapi perihnya hidup seperti misalnya banyaknya pemuda dan pemudi kita yang ngga punya duit tapi berani nikah. Ngga bisa makan tapi mondar -mandir didepan warung atau didepan rumah orang yang punya hajat dengan harapan biar dapat nasi gratis tanpa mengeluarkan kocek.

Pemuda -pemudi kita berani kredit motor padahal pengangguran. Ngga punya rumah padahal cuma ngontrak tapi berani ngga KB dan terus saja bikin anak sampai ngga sempat kathoan ( pakai celana: red). Luarrr biasaaa....., Apalagi hayo ?

Banyak sekalii kehebatan dan ketangguhan bangsa ini. Pemuda kita paling semangat jika diajak perang. Makanya ketika Malaysia bikin ulah dengan mengklaim batik, reog, gamelan sebagai budaya Malaysia. Mereka yang paling lantang bersuara " Hayooo ganyang Malaysia, sudah lama kita ngga gelut, ngga tawuran. Ko sekarang ada yang bikin ulah sikat habis saja, dari pada hidup juga susah mending mati mengukir sejarah!".

Ngga bisa Indonesia dilawan dengan cara Perang karena semangatnya begitu berkobar bahkan jika tidak bisa makan sekalipun.

Bangsa mana yang kuat seperti bangsa kita. Bangsa yang terpuruk yang hidup dari hutang luar negeri tapi masih bisa cengengesan, tertawa dan terus bercanda menjalani kehidupan yang sulit dan terhimpitnya ekonomi.

Kecurangan -kecurangan dalam sendi dan bidang apapun sudah sedemikian parahnya. Saya tak berani memastikan apakah kecurangan termasuk ke dalam kurikulum pelajaran atau pelatihan sepakbola.

Jangankan sepakbola, sedangkan Sekolah atau Universitas saja tidak punya urusan dengan kejujuran atau kecurangan. Dunia akademis hanya mengkaitkan diri dengan tahu dan tidak tahu, mengerti dan tidak mengerti, serta pintar atau bodoh.

Adapun jujur atau baik, bukan urusan ilmiah, bukan urusan Kampus dan urusan Akademik.

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top