Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Assiry gombal mukiyo, 10 September 2016


Kita sebetulnya nggak punya resistensi moral, resistensi budaya. Saya tidak marah dan menghina Gatot Brajamusti yang sangat telaten dan begitu rajin mengumpulkan puluhan celana dalam artis -artis ngetop bangsa ini. Yang kemudian disimpan didalam brangkas miliknya dan "melakukan itu" dengan dalih pengobatan spiritual dan mengusir jin. Sehingga untuk bisa memuasi kengacengannya itu dia melakukan berbagai upaya sehingga setiap artis dan entah siapa saja yang bisa dijadikan daging pemuas libidonya. Itu juga baru persepsi dari yang kontra terhadap Gatot, karena belum dibuktikan secara hukum entah benar apa tidak. Wallahu a'lam.

Akhirnya dengan hanya melihat pada bukti -bukti itu kita secara berjamaah dan beramai -ramai ikut -ikutan menghujat dan menghakimi atas perilakunya tersebut. Saya justru berguru banyak hal dari apa yang menimpanya saat ini.

Bukan hanya saya yang bisa mengambil sisi positif dari kejadian ini tetapi juga anda. Bahwa siapapun bisa memilki kesalahan dan kekhilafan apapun itu. Bahkan setiap orang "mungkin" memiliki kecenderungan dan juga melakukan hal yang sama, cuma terkadang berbeda jenisnya, tidak sama caranya dan mungkin juga berbeda modusnya. Jangan terlalu berbangga diri karena kapanpun sajaTuhan bisa berkehendak membuka aib -aib kita bisa jadi mungkin kebih dari itu. Sehingga tidak layak kita menjadikan alat bantu seks yang dikoleksi Gatot Brajamusti atau puluhan celana dalam yang disimpannya itu sebagai lelucon dan bahan bercandaan.

Jujur saja jika memang iya Gatot berperilaku Seks menyimpang, dan kebetulan anda diposisi Gatot sebelum dijadikan tersangka pasti anda sangat senang, Saya bahkan ainul yaqin bahkan jika anda diposisi Gatot kemudian banyak dikerubuti Wanita dan Artis cantik ko pura -pura ngga ngaceng, pura- pura alim rasa-rasanya anda termasuk golongan "minaddhobollin wal kadalin".

bahkan ada jutaan orang yang terlihat teriak -teriak anti Gatot, mengumpat dan mencelanya tetapi dalam hati berkecamuk protes itu "kenapa ko selalu orang lain, kenapa ko Gatot yang bisa meniduri puluhan artis dan gadis-gadis yang semlohay itu, kenapa bukan saya?" Jadi protesnya mereka bukan soal urusan moral seseorang tetapi ternyata karena dia belum pernah dapat kesempatan yang serupa.

Saya ingin Anda keluar dari ruangan mindset berfikir ini, sehingga bisa mengerti persis apa masalah yang dihadapi Gatot sehingga ia menjadi pribadi yang selalu rindu dengan selangkangan perempuan dan narkoba. "Apakah karena dia memilki kelainan seksual ? Apa karena sejak kecil dia ngga pernah netek ibunya sehingga ketika dewasa dia memilki hobby netek?"

Tolong ini bukan wewenang saya untuk menjawabnya. Saya sedih sekali karena saya cuma bisa menulis dan ngomong. Saya sebenarnya nggak suka ngomong seperti ini. Karena keselamatan manusia terletak pada lidahnya. Terus bagaimana, saya tiap hari dipaksa ngomong oleh keadaan oleh kondisi hidup bangsa ini yang semakin carut-marut dan terus tiap hari saya harus menjaga habis-habisan.

"Iya tapi itu kan Ustaz, Kiyai, tokoh panutan, Guru Spiritualnya para Artis kenapa secabul itu"
Kalau ada orang rajin shalat, rajin ke Masjid, rajin Qiyamul lail itu belum output. Dia masih input. Belum tentu orang rajin shalat output sosialnya atau kepemimpinannya lebih bagus dari yang tidak shalat, karena shalat itu levelnya fikih, hukum, bukan moral.

Saya tidak patuh hukum meskipun saya pasca sarjana dibidang hukum, minimal ngerti sedikit tentang hukum. Tetapi kalau saya tidak mencuri, itu bukan saya patuh hukum, tapi karena saya punya nurani dan akal sehat. Masak untuk tidak mencuri saja saya harus nunggu ada pasal? Tanpa ada hukuman, saya tidak akan melakukan keburukan, karena yang menjadi supremasi dalam hidup saya bukan hukum melainkan nurani dan akal sehat saya sebagai manusia.

Dan memang harus begitu. Kita bisa menuntut atau dituntut sebelum ada pasalnya karena probabilitas perilaku manusia itu tidak bisa dibatasi. Dari 32 bidak catur saja ada 114 juta probabilitas langkah. Dengan manusia model Indonesia yang jumlahnya segini banyak, ada berapa probabilitas kesalahannya?

Mbok masyarakat punya otoritas sendiri, nggak usah semua diserahkan kepada Hukum. Kalau dicap sesat, lha gimana, setiap orang punya kesesatannya masing-masing kok. Setiap orang bisa sesat sekarang, nanti tidak. Sesat itu dinamis, jangan jadikan dia identitas. Anda jangan percaya saya Muslim. Kalau saya cuma ngaku-ngaku gimana? Bagaimana parameternya? Apalagi kemudian anda menuduh Gatot sesat misalnya. Wong sesama sesat ko saling menyesatkan. Nabi Muhammad sendiri belum pernah menyesatkan orang lain ketika saya membaca dalam literatur sejarah apapun. Kita baru kelas kiyai ecek -ecek dan Ustaz dadakan saja sudah berani menuding-nuding orang lain sesat hanya karena tidak sefaham dengan kita.

Maka sholeh atau patuh pada agama jangan dicari kriterianya. Entah Ia misalnya sebagai Ustaz , Kiyai, atau karena rajin jumatan, rajin shalat 5 waktu, sering umrah, suka sekali menciumi hajar aswad sampai lemot, sujudnya sampai gosong jidatnya. Itu bukan output, itu hanya input belaka, itu pantasnya diletakkan di pawon (dapur). Kalau memamerkan lukisan kaligrafi kan tidak di tempat dapur produksinya yang berantakan, tapi di etalase atau Gallery.

Sekarang orang terbalik-balik, yang dipamerkan justru dapur tempat produksinya. Padahal dapur produksi itu urusan pribadimu. Agama itu urusan dapur, bukan di etalase. Sekarang malah kebablasan sampai ke papan nama segala.

Kita tidak peduli apakah dapur itu Islam, Kristen, Buddha, atau apa pun, nggak masalah. Apakah wajannya merk Syi’ah, sutil-nya merk Ahlusunnah, kompornya merk FPI merk Gereja Bethani, nggak masalah itu semua.Yang penting, perilaku sosialnya baik.

Ko tiba -tiba kita yang masih harus banyak belajar tentang bagaimana menahan ngaceng, menahan diri dari setiap gejolak nafsu apapun itu, berani -beraninya dan bahkan lantang menuding Gatot adalah "Pria penggila Isi Celana Dalam". Sedangkan diam -diam kita juga merindukan dan sangat ambisius bercita-cita yang tidak jauh berbeda ketika mendapatkan kesempatan yang sama. Sedangkan petinju yang empat bulan sekali bertanding sekadar sepuluh ronde saja perlu tiga bulan berlatih. Apalagi kita yang harus bertanding melawan hawa nafsu seumur hidup, ko tidak belajar dari segala peristiwa untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan pelajaran hidup agar lebih baik.

Maka alhamdulillah Tuhan memberi peluang kepada kita semua dengan menganugerahi umur dan kesehatan juga kelapangan dan juga diberikan kesempatan untuk memperbarui kesadaran sikap dan kekuatan kita agar menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak menjadi pribadi yang gemar menuding, menggunjing dan menghakimi siapapun.

So, fokuslah kepada aib dan kelemahan diri sendiri, karena di hari nanti yang ditanya dan dimintai pertanggungjawaban bukan borok orang lain yang kita ketahui, melainkan borok dan aib diri sendiri yang bisa jadi tidak kita ketahui lantaran sibuk "nguber" dan "ngorek- ngorek" aib orang lain.

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top