Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Assiry gombal mukiyo, 12 Juni 2016


Dalam hukum Islam sama sekali tidak ada aturan yang melarang seseorang menjual makanan pada siang hari saat bulan puasa. Jika alasannya toleransi, hal tersebut harus dilihat sebagai bagian dari seruan dakwah. Karena itu, tidak bisa dipaksakan. Warung - warung kecil yang buka saat bulan puasa sama sekali tidak mempengaruhi umat Islam untuk membatalkan puasanya.

Kalau mau merazia itu harus adil, Mall- Mall besar, Supermarket, Swalayan, yang justru menjajakan makanan -makanan siap saji siang bolong di bulan Ramadhan juga harus di razia, kalau tidak mau tutup angkut dan jarah juga dagangan yang ada di Mall tersebut, karena ini bisa mengancam "ketahanan perut" bagi yang berpuasa. Jangan hanya berani merazia warung -warung kecil. Otak itu harus dipakai puasa juga seluruh anggota tubuh ini, jangan hanya kerongkongan dan perut saja yang diajak berpuasa biar fresh dan luas cara berfikir dalam menentukan keputusan dan langkah yang lebih bijaksana.

Tidak semua Muslim yang wajib berpuasa, seperti perempuan haid (justru haram puasa), ibu hamil/menyusui, orang sakit, musafir, dan orang tua yang lemah. Mereka semua dapat dispensasi/rukhsah langsung dari Tuhan. (Baca QS. Al-Baqarah ayat 183-184). Perintah wajib puasa langsung disertai rukhsah kepada sejumlah kelompok orang yang tidak wajib berpuasa. Mereka yang menjalani rukhsah Tuhan itu juga harus dihormati haknya untuk memperoleh akses terhadap rumah makan.

Mereka yang tidak beragama Islam dan tidak sedang berpuasa tentu membutuhkan makan pada siang hari. Muslim yang baik harus pandai menghormati hak-hak tetangganya yang tidak puasa dan mendapat akses kepada rumah makan. Jika banyak warung dipaksa tutup mereka yang tidak berpuasa akan kesulitan untuk mencari makanan.

Rumangsamu Bapakmu yang seharian "nyangkul" di Sawah, Paklekmu yang jadi kuli bangunan bertarung seharian dengan terik panas, Mbahmu yang gemeteran kalau siangnya tidak makan, ponakanmu yang masih balita semuanya puasa? 

Puasa ko minta di hormati, urusan puasa adalah urusan privasi antara engkau dengan Allah. Jika sweeping makanan, merazia warung -warung kecil terus dibudayakan saat puasa ramadhan hal ini justru akan merusak iklim toleransi.

Ada banyak orang di Indonesia butuh makan di siang hari karena mereka bukan beragama Islam atau tidak sedang berpuasa. Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi, apalagi merazia yang bukan haknya dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari merupakan tujuan dan kebutuhan. 

Jangan sampai hanya karena dalih dan alibi bisa mengurangi kekhusukan, Warung kecil yang menjual makanan dan es cendol dirazia dan disita kemudian di makan sendiri oleh Satpol PP. Maklum habis merazia mereka "kecapekan" dan tentu juga panas. Ini kan terlalu "sadis" untuk dikenang. Masak kalah sama kucing. Kalau niatnya mengambil makan yah ambil saja secukupnya saja, bukan menyita semua dengan rakus dan dibawa pulang. Ini razia apa "nyolong". Kelakuan begitu ko mengaku puasa.

Bukan hanya tidak makan dan minum tak banyak omong dan lain sebagainya, tapi juga berbagai macam “tidak” yang lain coba dilatihkan selama bulan Ramadhan. Termasuk “tidak” ribut, riuh rendah, gebyar-gemebyar, gembar-gembor, melonjak-lonjak, berjoget-joget, gulung-gulung, menghentak-hentak, cengengesan yang berlebihan, memporak-porandakan dan juga termasuk menjarah dan menyita seluruh isi warung makan.

Bahkan Iblis dan para pengikutnya yang sedang istirahat total pada bulan ramadhan justru merasa terganggu karena berisik dan ributnya tingkah-polah manusia jika puasa tiba. Padahal waktu Ramadhan betul-betul digunakan oleh ummat Iblis untuk rehat, liburan dan istirahat total setelah 11 bulan bekerja keras menguras tenaga dan fikiran "concern" untuk menggoda manusia.

Beberapa pemimpin besar Iblis yang merasa terganggu itu "ngomongin" kita bangsa manusia, sambil nongkrong di pinggir -pingir Masjid dan Musholla.

"Puasa ko boros dan ribut melulu, belanja pada saat puasa semakin banyak dibanding hari biasa, ribut jualan Es kolak, jajanan puasa, kado puasa, ustadz puasa, kiyai kultum puasa, tarhim puasa, tadarrus puasa, cerai puasa, kawin puasa, sholat puasa, bukber puasa, pakaian baru puasa, semua ribut dan penuh pencitraan". 

"Puasa manusia memang puasa cap asu!", keluh pemimpin Iblis Tua bangka.
"Iyaa betul!" Sahut salah satu cucu Iblis belang bangsat "Puasanya ribut dan gaduh melulu, sebenarnya tanpa adanya kita bangsa Iblis, manusia sudah lebih bodoh dan rendah derajatnya dari binatang sekalipun, mereka "ngga" mikirrr. Lha wong sedekah, tadarrus, zakat, shalat malam saja nunggu ramadhan tiba. Manusia berdalih untuk mengejar pahala. Sedangkan untuk bisa khusu' puasa saja semua warung harus dirazia. Kita lihat saja kalau puasa usai, manusia semua ogah melakukan itu semua, Dasar manusia!". 

Jamaah iblis yang bergerombol itu tertawa terkekeh-kekeh hingga berguling-guling di pinggiran Masjid dan Musholla menyaksikan kelucuan-kelucuan bangsa manusia.

About Muhammad Assiry

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top