Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Assiry gombal mukiyo, 21 April 2015


Saya jadi teringat dengan salah satu Dosen Psikologi saya waktu "nggembel" sebutan saya waktu kuliyah dahulu. Sebut saja Dosen saya itu bernama Dr. Paidjan ( bukan nama sebenarnya). Beliau keukeuh dan mengajak berdebat dengan saya hanya karena menganggap belajar kaligrafi atau melukis itu harus berbakat. Saya katakan bahwa menjadi Pelukis atau Kaligrafer itu "ndak" usah pakai modal bakat.

Tapi beliau tetap "ngotot"  bahwa menjadi Pelukis dan Kaligrafer itu harus berbakat. Akhirnya endingnya saya tidak diluluskan/ dikasih nilai mata kuliahnya tersebut karena saya juga malas berangkat kuliah mengikuti mata kuliyahnya di ruang kelas.

Inilah resiko jika ketemu Dosen yang menurut saya maaf "culun" alias ndeso. Padahal saya sendiri juga ndeso.Seandainya anda dikaruniai body yang langsing, semlohay tinggi semampai, apakah otomatis anda berbakat menjadi foto model atau aktris ternama? Andaikata anda dikaruniai badan yang tegap dan rada sangar apakah itu berarti anda akan begitu mudahnya menjadi ABRI misalnya?

Jikalau anda dikaruniai otak yang cerdas dan jenius bak Habibi apa itu berarti anda akan mudah saja menjadi Teknokrat kelas dunia?

Kalau orang tua anda seorang Maestro Lukis seperti Raden Saleh apakah otomatis anda akan jadi Pelukis ngetop juga?

Kalau orang tua anda seorang ulama besar, apakah otomatis anda akan menjadi Kiyai? Terakhir, apakah seandainya orang tua anda seorang Milyunner apakah itu berarti anda akan langsung jadi pengusaha besar?
Jawabannya tentu tidak !.........

Apa yang Tuhan anugerahkan secara alami baik berupa talenta, otak cerdas atau lahir dari keluarga kaya, hanyalah sekedar potensi yang masih harus terus diasah dan dikembangkan terus- menerus. Potensi dan bakat itu tidak akan berarti apa -apa dan hanya menjadi sampah jika anda tidak melengkapinya dengan belajar, tekun, ulet serta kerja keras juga pantang menyerah.

Lha wong belajar Kaligrafi saja malas -malasan, tidak fokus baru beberapa bulan sudah "ngebet" pulang ingin nikah ya bagaimana mungkin anda meraih sesuatu itu jika setengah -setengah.

Satu hal yang sering kali saya sampaikan saat mengajar dihadapan kader -kader PSKQ Modern yaitu kunci sukses itu adalah "satu dulu yang harus didalami dan yang lainnya cukup dipelajari".

Artinya mempelajari sesuatu itu harus fokus dan menjalaninya dahulu dengan senang hati jangan sampai fokusmu pecah hanya karena kesibukan dan keinginan -keinginan lainnya yang akhirnya tumpang tindih. Nah ini juga bisa menjafi kendala terbesar sehingga akhirny anda gagal.

Cita -cita ingin jadi Pelukis tapi fokus yang dilukis cuma foto pacar, dikasih tugas berkarya tapi malas -malasan misalnya, ya bagaimana mungkin anda bisa meraih impian itu.Bukankah rumusnya tetap sama dari dulu dan setau saya tidak pernah berubah wahai para Dosen: 1% bakat, dan 99% kerja keras. Tidak pernah dibalik dan jangan coba dibolak -balik.

Katakanlah anda ingin jadi penyanyi terkenal. Meskipun memiliki suara yang luar biasa bagusnya, namun anda dituntut kerja keras. Celine Dion misalnya diminta mengulang proses rekaman lagunya sampai 9x oleh David Foster. Anda juga harus menemukan karakter suara yang sesuai dg jenis lagu. Anda harus bisa bekerjasama dengan banyak pihak: musisi band pengiring, produser, pengatur busana, tata rias, manajer sampai meladeni penggemar. Suara indah tidak lagi menjadi satu-satunya alat ukur kesuksesan. Hal yang sama juga berlaku kalau anda mau jadi ilmuwan kelas dunia, pengusaha tersohor ataupun profesi lainnya.
Tidak ada jalan pintas. Dan 1% bakat atau potensi yg anda miliki itu pada akhirnya tertimbun oleh butiran peluh, berbagai penolakan dan kekecewaan serta caci-maki dan penghinaan yang bertubi-tubi.
Mereka yang tidak sanggup menanggung perihnya kegagalan tidak akan pernah menikmati lezatnya keberhasilan.

Untuk menjadi Kaligrafer dan Pengusaha kecil -kecilan saja, saya harus menguras peluh, prihatin, jarang tidur malam, juga berdoa dan puasa bertahun -tahun. Saya belajar kaligrafi dengan mengabdi ( khidmah)  dari Guru satu ke Guru Kaligrafi yang lainnya maklum karena keterbatasan ekonomi keluarga saya tapi tidak menyurutkan niat dan langkah saya untuk menggapai bintang kejora kesuksesan. Tercatat Saya belajar Kaligrafi siang malam di Grista Annur saja 3 tahun, kemudian di LEMKA juga 3 tahun, ditambah Khidmah 3 tahun lagi sambil mengajar.

Setelah itu belajar melukis dan proyek Seni di lapangan dengan Kakak kandung Saya Mas Rosidi hanya dengan modal tekat merubah nasib, itu belum termasuk belajar kepada Guru -Guru Kaligrafi , dan guru saya yang mengajarkan ilmu selain seni.

Satu lagi, anda juga membutuhkan keberuntungan. Keberuntungan di sini artinya adalah "momen saat bertemunya kualifikasi dan peluang". Mereka yang sukses biasanya mereka yang berkualitas dan memanfaatkan peluang serta kesempatan yang ada sebaik mungkin.Tentu yang paling penting adalah belajar apa saja.

Untuk jadi Artis saja tidak cukup hanya bisa "nyanyi". Kalau cuma itu yang diandalkan oleh seorang artis sudah barang tentu akan tergerus persaingan yang ketat dan akhirny tersingkir.

Begitupun juga saya sering berujar kepada Santri -Santri PSKQ Modern. Bahwa untuk menjadi Kaligrafer jangan hanya bisa kaligrafi hitam putih saja yang dikuasai tapi juga harus bisa kaligrafi dan melukis dengan multi teknik dan media apapun. Tidak lupa juga ilmu penunjang lainnya seperti marketing, Managerial, bahasa asing, ilmu bisnis dan pemasaran dan lain sebagainya.

About Elsya Vera Indraswari

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top