Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9

Assiry gombal mukiyo, 2 November 2014

Segala sesuatu yang kita jalani dalam hidup selalu mncari yang bernama enak kepenak , hidup mapan ,hidup mulia dan hidup sejahtera.

Tapi enak yang kita inginkan tentu akan ada batasannya, ada koridornya, ada sistem dalam diri kita yang mengatur agar bsa menempatkannya secara tepat.
 
Makan sempol ayam bakar itu enak tapi jika makanmu itu didepan orang yang kelaparan tanpa memperhitungkan apakh dia sudah makan apa belum, apakah dia betul-betul tidak ingin makn atas apa yang anda makan itu shingga bisa jadi orang tersebut hnya bisa "ngulu idhu" celam - celam lidahnya tanpa anda menawarkan sedikitpun mskipun hanya basa-basi.

Melakukan seks itu enak dan nikmat, jika anda lakukan dengan pasangan syah anda melakukannya pun di tempat yang nyaman dan romantis, sehingga bisa menemukan essensi dari nikmat itu sendiri.
Apa jadinya jika anda melakukan seks di pinggir jalan ,ditengah-tengah lapangan, atau mungkin di rerimbunan semak -semak belukar. Bahkan pernah sekali saya pergoki muda -mudi yang melakukan "itu " dibawah daun pisang di sudut sebuah gang.

Saya intip dosa tidak diintip juga sayang sudah kepalang. Untung saja itu ketemu saya, coba kalau ketemu Satpam Ronda atau warga bisa dicokok di Balai Desa dan mungkin babak belur.

Apa enaknya? Apa karena lebih hot karena memacu adrenalin atau karena kepepet dan kebelet.
Tuhan menciptakn ruang dan waktu, mengajarkan tentang nilai dan martabat sebagai makhluk paling sempurna (ahsan taqwiim) yang berbeda jauh dengan mkhluk lainnya. Kita bisa lebih tinggi derajat kita dibnding malaikat, pun bisa lebih rendah dengan binatang sekalipun.

Letak perbedaan kita dengan Makhluk lainnya adalah kita memiliki nafsu dan juga akal. Malaikat diberikan Allah kesempurnaan tapi tidak memilimi nafsu. Jika Tuhan perintahkan bersujud ya kompak pasti bersujud (la ya'shunallaha ma amarahum wayaf'aluna ma yu maruuun ). Sedangkan binatang memiliki insting tapi tidak memiliki akal, sehingga wajar saja jika binatang bisa kawin kapan saja, dimana saja, tanpa menghiraukan betapa banyak orang yang nonton atas adegan itu. Jauhkanlah kebinatangan dalam diri kita, dalam hal apapun itu.

Jika kita sanggup membuang sifat -sifat binatang dengan akal fikiran kita, menggunakan nafsu dan menahkodainya tepat kiranya Tuhan menganugerahi kita sebagai Khalifah fi al ardhi.

About Elsya Vera Indraswari

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top