Slider[Style1]

PSKQ dalam Liputan

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Style7

Style8

Style9



Assiry gombal mukiyo, 2013


"Saya ngga bisa apa -apa ".Itulah jawaban saya ketika banyak orang yang bertanya tentang kemahiran dan kemampuan saya dibidang seni dan kaligrafi. Bukan saya lebay atau merendah tapi faktanya saya memang rendah dan kerdil.Selalu ada saja yang menanyakan tentang jumlah santri PSKQ entah melalui chat inbox atau sms dan telepon. 


Padahal jumlah santri bukan tujuan saya. Setiap santri yang datang adalah bukan untuk dibanggakan jika datangnya berbondong -bondong bak gelombang lautan pasang ketika saling sambung -menyambung.Atau disedihkan jika cuma beberapa gelintir saja calon santri yang mau belajar. Saya meyakini betul bahwa setiap orang yg datang untuk belajar khusus Kaligrafi Alquran dan Seni Rupa di gubug kumuh PSKQ itu adalah karena perintah Tuhan yg ditiupkanNya kedalam hati para calon santri tersebut entah melalui kegandrungannya terhadap seni tersebut atau karena alasan -alasan lain yang terkadang tidak bisa dilogika sedikitpun. Ada yang mungkin karena pacarnya nikah akhirnya ngambek dan kabur lalu tersesat di PSKQ sehingga terpengaruh dengan virus kaligrafi teman -temannya yang asik menggila dengan mengolah huruf demi huruf dan menorehkan berjuta warna pesona. 

Tuhan memiliki jutaan, milliaran dan bahkan tak terhingga jumlahnya disetiap cara bagi tapak langkah kaki yang akhirrnya harus terakumulasi di gubug PSKQ. Bagi induk ayam bukan jumlah telur yang dipertanyakan, tapi sejauh apa proses eraman dan kerja keras induk ayam agar telurnya bisa menetas semua. Itulah puncak kebahagiaan bagi sang induk ayam ketika 21 hari dihabiskan untuk tirakat topo broto dikandang kesayangannya itu.

Ada juga beberapa santri yang sedang perjalanan ke jakarta untuk belajar jadi chef terkenal karena itulah impian dan cita–citanya, malah mampir dan tersangkut di PSKQ.Semoga saya bukan Iblis yang sengaja ingin menyesatkan anda untuk tujuan-tujuan dan cita-cita yang sedemikian akurat dipersiapkan dari rumah ternyata harus ambiyar dan hancur berkeping karena tercebur dikolam PSKQ yang kumuh.
Barangkali Tuhan sedang memberikan jalan yang lebih baik dari jutaan jalan yang menurut kita sudah baik untuk masa depan yang sempurna. 

Saya malu untuk mnghitung-hitung setiap jumlah santri yang datang. Karena itu tugas dari Tuhan untuk saya. Agar bisa mengamalkan apapun yang saya bisa meskipun saya kadang betul -betul merasa bingung karena saya sadar ternyata"saya ngga bisa apa -apa." 

Saya harus tahu diri.Tapi setidaknya saya seorang warganegara yang ingin anak-anak Indonesia terdidik dengan baik.Data tentang ketinggalan murid-murid Indonesia di pelbagai bidang dibandingkan dengan negara sekitar kita sering dikemukakan. Saya ingin ada perubahan yang substansial dalam cara belajar di sekolah atau dipesantren -pesantren kita. Kalau tidak, bangsa kita akan macet di masa depan.

Dengan sumber-sumber yang ada, perbaikan bukan mustahil.Saya ingat Pak Tino Sidin yang beberapa puluh tahun yang lalu muncul di TVRI mengajar anak-anak menggambar.Nama programnya bukan “Belajar Menggambar”, melainkan “Gemar Menggambar”.
Bagi saya Pak Tino sebuah inspirasi begitulah seharusnya proses belajar berlangsung. Yang penting bukan menghasilkan gambar dengan teknis yang jitu, melainkan menggemari ketrampilan itu.Bukan menghasilkan karya -karya kaligrafi yang indah memukau dan teknik -teknik meniru karya-karya master dan menjiplaknya tapi bagaimana seorang santri bisa menggali dalam-dalam bagaimana hatinya bisa nyaman dan yakin dengan pengalaman baru untuk bisa mencintai kaligrafi dan seni bagi masa depannya yang gemilang. Cinta selalu fokus kepada apa yang b
isa dia berikan dan hasilkan untuk selalu mengindahkan bukan mengeruk dan mengaduk -aduk keuntungan dan kesuksesan materi semu dari bagian kecil dunia yang melalaikan.

Dengan itulah proses belajar "membentuk sikap". Belajar bukan hanya untuk mengetahui dan menambah informasi.Belajar adalah menjelajah dunia yang selalu baru dan mengasyikkan.
Dari sana tumbuh sikap yang selalu ingin tahu, kecenderungan menemukan dan mencipta, kebiasaan berpikir jernih dan teratur, kemampuan bertukar gagasan dengan orang lain.

 Fakta yang terjadi di PSKQ ketika kita bisa belajar seni dengan memahami dari tafsir Alquran ternyata sangat mengasyikkan.Barangkali akan terasa jenuh dan bosan jika kita hanya belajar tafsir alquran saja tanpa ada visualisasi tentang isi kandungan dari Al Quran.Itu bisa diaplikasikan dengan variasi dari torehan warna dan pembagian ruang ruang ayat yang menyatu dengan lukisan.Oh indahnya.. 

Pendek kata sebuah perubahan dari “pintar” menjadi “gemar”. Dari “gemar” bisa tumbuh pelbagai hal, termasuk menjadi "kreatif".Saya ingat dulu di sekolah menengah guru saya membuat saya menyukai Seni Iluminasi dengan mengatakan: “Kalian di kelas ini bukan untuk jadi ornamentator atau seniman tapi untuk terbiasa berpikir detail dan logis.”  

Selama bertahun-tahun, hanya kadang-kadang, secara kebetulan, saya menemukan guru yang bisa membuat anak-anak terpesona menempuh “pursuit” itu, yang bisa menunjukkan peran imajinasi yang luar biasa merubah dunia menjadi penuh gelora.

About Elsya Vera Indraswari

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih


Top