PSKQ Modern, 20 Desember 2018
Oleh: Alim, 2018
Ada salah satu tokoh
antagonis terkenal di zaman Nabi bernama Abu Jahal. Nama asli Abu Jahal
adalah Amr bin Hisyam al Makhzuniy. Ia termasuk orang yang terpandang
di kalangan Suku Quraisy, orang arab asli yang hidup di pusat peradaban
Islam namun sayangnya bukan di pihak yang benar.
Saya pikir akan
terus relevan untuk menceritakan kembali tentang Abu Jahal ini agar kita
dapat mengambil pelajaran, khususnya tentang sifat dan perangainya. Di
antara sifat dan perangainya antara lain:
Suka mengolok dan memaki
Abu Jahal termasuk orang yang paling kejam dalam mengolok-olok. Umpatan
demi umpatan amat mudah meluncur dari mulutnya. Sebutan orang gila,
tukang sihir, penyair, tukang tenung dan lain sebagainya sering dia
katakan, bahkan kepada Nabi.
Kalau gaya sekarang, ala sini, mungkin semacam gobl*k, tol*l, baj******, anj*** dan semacamnya.
Provokator
Ibnu Mas’ud berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah SAW di dalam
masjid, beliau sedang bersembayang. Kemudian Abu Jahal berkata, “Kiranya
ada orang yang berani mengambil kotoran unta Bani Fulan lalu
melemparkannya kepada Muhammad ketika dia sujud”. Maka bangkitlah 'Uqbah
bin Abi Mu’ayth, dan dia datang membawa kotoran lalu dia lemparkan
kepada Rasulullah SAW waktu beliau sedang sujud.
Berdasar
penggalan kisah ini, saya membayangkan Abu Jahal sebagai sosok yang suka
membisikkan kedengkian, membakar amarah orang dan menyulut kebencian.
Hal ini tidak dilakukan sembunyi-sembunyi tapi terbuka di atas mimbar.
Kalau sekarang mungkin panggung.
Penggerak massa untuk kejahatan
Pada saat parlemen “Darun Nadwah” mengadakan sidang istimewa, Abu Jahal
mewakili kabilah Bani Makhzum. Atas usulan Abu Jahal, sidang parlemen
ini menyepakati keputusan keji untuk membunuh Nabi Muhammad SAW dengan
cara setiap kabilah harus memilih seorang pemuda yang gagah dan bernasab
baik sebagai perantara, kemudian masing-masing diberikannya pedang yang
tajam, lalu mereka arahkan untuk menebas secara serentak seakan tebasan
satu orang untuk kemudian membunuhnya. Dengan begitu akan terbebas dari
ancamannya. Berarti darahnya telah ditumpahkan oleh semua kabilah.
Suka Kekerasan, main gampar
Suatu kali, Abu Jahal berkata, “Apakah Muhammad pernah menggosokkan
wajahnya ke tanah (sujud) di hadapan kalian?” Dijawab, “Ya”. Abu Jahal
pun berkata, “Demi Lata dan Uzza, jika aku melihatnya melakukan itu,
sungguh aku akan injak lehernya, atau aku gosokkan wajahnya ke tanah!”.
Jadi memang perilaku kekerasan Abu Jahal ini sudah ada sejak dalam
pikiran, gais.
Pada kesempatan lain, ketika Abu Jahal gagal
menangkap Nabi, ia lantas melabrak dan menyatroni Rumah Abu Bakar. Dari
rumah keluarlah Asma binti Abu Bakar. Abu Jahal yang terkenal dengan
perangainya yang buruk itu menampar pipi Asma Dengan kerasnya, sampai
anting-antingnya jatuh. Ya, bahkan pada perempuan baik-baik pun main
gampar.
Kalau dicari lagi, kisah Abu Jahal ini cukup banyak. Tapi
karena ruang dan waktu terbatas, silakan kawan membuka
referensi-referensi labih lanjut.
Nah, meski jahatnya sundul
langit, kelompok, grup, laskar atau front pembela Abu Jahal sangat
menghormatinya. Bahkan, memanggilnya dengan sebutan Abul Hakam. Arti
kata ‘hakam’ itu dekat dengan makna bijaksana, hakim, adil dan
sejenisnya, sebuah nama yang sungguh baik dan mulia. Ini menunjukkan
bahwa orang-orang itu fanatik buta, tidak bisa melihat sifat dan
perilaku jahatnya sebagai fakta.
Umpatan, cacian, makian dan
perilaku kasar tidak membuat pendukungnya mengoreksi ataupun sekedar
menjauhi. Mereka justru mengelu-elukan Abu Jahal sebagai golongan
ningrat dan bersekongkol dengannya untuk berbuat jahat. Entah setan mana
yang mempengaruhi mereka ini. Yang jahat justru dibilang baik, hanya
karena Abu Jahal keturunan suku terpandang. Na’udzubillah min dzaalik.
_____________________
Ilustrasi: Santri Pskq Modern Kudus Jateng sedang memotong pola kaligrafi salah satu Asmaul Husna goresan Khath Tsulust Muhammad Assiry

Terimakasih telah berkunjung di Pesantren Seni Kaligrafi Al Quran, silahkan meninggalkan pesan, terima kasih
0 Komentar